JOGJA – Teater Kertas SMAN 2 Jogja (Smada) menggelar pentas tunggal berjudul Permatakoe Jang Hilang. Pentas tersebut digelar di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) Sabtu malam (12/5).

Permatakoe Jang Hilang merupakan adaptasi dari novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk karya Buya Hamka yang terbit 1983. “Ini adalah event tahunan yang diselenggarakan menyambut HUT ke-53 Smada,” kata Ketua Pentas Tunggal 2018 Catra Darmesta Hendraprasta.

Dia berharap pentas tersebut bisa menumbuhkan minat berteater pada anak muda. Sedangkan penggarapan naskah dan produksi dilakukan oleh murid Smada.

“Hampir 80 persen tim produksi dan teater berasal dari Smada. Sisanya, pelatih untuk musik dan teater dari luar,” ujar Prasta, sapaan Catra.

Pentas tersebut menjadi proyek besar terakhir bagi siswa kelas 11. “Setiap tahun Teater Kertas selalu menampilkan beberapa pentas kecil yang sifatnya internal. Kemudian ditutup dengan pentas tunggal sebagai proyek besarnya,” kata Prasta.

Pentas teater yang digarap siswa kelas 11 Smada Rangga Nadiar ini bercerita tentang persoalan adat di Minangkabau. Ada perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih.

“Sejauh ini sudah sesuai dengan goals kami, seperti tiket untuk kursi penonton sudah sold out,” kata Prasta.

Ekstra kurikuler (Ekskul) teater sudah eksis di Smada sejak 1980 diprakarsai Slamet Rahardjo. Pada 2009 Teater Kertas menggelar pentas tunggal pertama berjudul Perempuan Dalam Kereta di TBY. Selama 10 tahun, Teater Kertas menggelar pentas tunggal secara rutin tiap tahun.

Guru pembimbing pentas tunggal Permatakoe Jang Hilang Herlina Puspitasari bangga dengan siswanya. “Anak-anak bisa membuktikan bahwa mereka konsekuen,” ujar Herlina.

Dia mengatakan walaupun anak didiknya sering bandel, dalam setiap event bisa menyeimbangkan urusan akademik dan event yang sedang dikerjakan.

“Semoga dengan pementasan ini masyarakat bisa kembali mencintai teater,” ujar Herlina. (sde/iwa/mg1)