JOGJA – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini prihatin dengan kenyataan seorang ibu mengajak anaknya meledakkan bom di Surabaya (13/5). Dia menyayangkan tindakan pelaku yang merupakan satu keluarga.

Siti dan jajaran PP Aisyiyah mengajak masyarakat menjaga dan menjauhkan keluarga dari terorisme. Peran ibu menjadi kunci untuk menjauhkan keluarga dari paham terorisme.

“Sebagai perempuan, sebagai ibu, kami sampai linglung. Tidak menyangka itu (peledakan bom bunuh diri) dilakukan oleh keluarga. Kok bisa, kok ya ada,” ungkap Siti di Aula PP Aisyiyah Selasa (15/5).

Berkali-kali dia menegaskan tindakan tersebut tidak ada dalam ajaran semua agama. Siti mengajak para muslim kembali merujuk pada Quran dan Sunnah sebagai pedoman beraktivitas. “Banyak nilai perdamaian, toleransi di dalamnya, mari mengokohkan akidah diri,” ajak Siti.

Dia menjelaskan, PP Aisyiah akan melakukan edukasi ke keluarga-keluarga dan sekolah untuk anak-anak yang mengedepankan nilai-nilai ajaran Islam. Salah satunya program sosialisasi dan gerakan mencintai anak.

“Kalau kita cinta anak tidak mungkin mengorbankan masa depan mereka,” kata Siti.

Hal tersebut dapat dicapai dengan membangun kebersamaan dalam keluarga. Menjalin relasi sosial yang baik, dan orang tua harus memiliki wawasan yang luas.

Siti berpendapat ibu yang bekerja tidak perlu berkecil hati karena banyak perempuan karier kenyataannya sukses mendidik anaknya. “Dari keluarga itulah akan ada kehidupan generasi bangsa yang kuat,” tegasnya.

Antar organisasi pun bisa bersinergi saling mengingatkan ketika terjadi perbedaan persepsi dan pandangan. Pihaknya juga berharap peristiwa terorisme ini tidak menjadi kepentingan sesaat bagi golongan tertentu.

“Jangan takut membangun dialog pada berbagai pihak yang mungkin bisa saja memiliki pandangan yang berbeda. Mengenai pemahaman, perdamaian, toleransi, saling memuliakan sesama,” kata Siti. (cr3/iwa/mg1)