SLEMAN – Bandara Adisutjipto masih saja menjadi pintu masuk penyelundupan narkoba dari Malaysia.

Sang bandar lagi-lagi memanfaatkan seorang perempuan Indonesia sebagai kurir. Sebagaimana kasus yang kerap terjadi di Adisutjipto, kurir narkoba selalu merupakan penumpang pesawat Air Asia. Seperti halnya yang dilakukan Ratna,34. Penumpang Air Asia dengan nomor penerbangan AK384 dari Kuala Lumpur itu ditangkap petugas pabean di terminal kedatangan internasional bandara, Jumat (4/5) petang. Total 562,6 gram sabu yang dibawa bekas tenaga kerja wanita (TKW) asal Klaten, Jawa Tengah, itu.

Kepala Kanwil Ditjen Bea Cukai (DJBC) Jawa Tengah dan DIJ Parjiya mengatakan, sesampai di bandara pelaku menunjukkan gerak-gerik mencurigakan saat akan menjalani pemeriksaan X-ray. “Saat dilakukan body check, petugas menemukan kristal putih di dalam popok dewasa yang dikenakannya,” ungkap Parjiya Selasa (15/5).

Setelah dilakukan uji laboratorium, lanjut Parjiya, kristal putih tersebut positif sabu. Barang haram tersebut diduga berasal dari Tiongkok.

DJBC Jawa Tengah dan DIJ lantas menggandeng Ditreskoba Polda DIJ guna pengembangan perkara. Sekaligus mengungkap jaringan pengedar sabu yang berhubungan dengan Ratna.

Untuk kepentingan itu, polisi tak segera memenjarakan perempuan yang diduga terlibat jaringan narkoba internasional itu. Atas petunjuk penyidik, Ratna diminta memancing anggota sindikat narkoba yang ada di Jogjakarta.

Strategi yang diterapkan Direktur Ditreskoba Polda DIJ Kombes Pol Wisnu Widarto ternyata membuahkan hasil. Ratna dihubuni seseorang bernama Jajat, 34, yang bermaksud mengambil paket sabu. Keduanya sepakat bertemu di depan rumah sakit di kawasan Klaten pada Minggu (6/5). Saat pertemuan itulah keduanya lantas ditangkap petugas.

Dari pemeriksaan sementara, menurut Wisnu, Jajat merupakan orang suruhan Iwan Aceh, nara pidana kasus narkoba yang mendekam di Lapas Karawang, Jawa Barat. Untuk mengungkap jaringan sindikat di Indonesia, Polda DIJ bekerja sama dengan Bareskrim Mabes Polri.

Ratna bukanlah pemain baru dalam sindikat ini. Wisnu mengatakan, perempuan itu telah dua kali menyelundupkan sabu dari Malaysia melalui Bandara Husein Sastranegara, Jawa Barat. Ketika itu lolos.

“Untuk sekali antar, tersangka mendapat upah sekitar Rp 10 juta. Sabu yang dibawa kisaran harganya mencapai Rp 600 juta,” ungkap Wisnu.

Kini Ratna dan Jajat harus mendekam di sel prodeo Polda DIJ untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Keduanya dijerat dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Dengan ancaman ppidana paling lama 15 tahun penjara dan denda maksimal Rp 10 miliar.(dwi/yog/mg1)