JOGJAKARTA-Guna menggali dan mempelajari kembali sejarah yang terdapat di Jogjakarta, Dinas Kebudayaan Kota Jogjakarta menggelar acara seminar sejarah di Dalem Kepatihan Pakulaman Senin (14/5).

Memang, banyak sekali bangunan bersejarah di Jogjakarta yang dapat dipelajari. Salah satunya adalah bangunan cagar budaya yang terdapat di Kulon Progo. Ya, bangunan itu adalah Pesanggrahan Glagah dan Pasarean Giri Gondo yang memiliki nilai sejarah tersendiri bagi Kadipaten Pakualaman.

Dalam seminar sejarah yang memiliki tema “Menapak Jejak Kadipaten Pakualaman di Kulon Progo” Dinas Kebudayaan Kota Jogja ingin mengajak masyarakat lebih memahami lagi peran Kadipaten Pakualaman.

Diungkapkan oleh Plt Bidang Sejarah dan Bahasa, Dwi Hana Cahya Sumpena, banyak aspek yang dapat dipelajari dari Kadipaten Pakualaman. “Bukan hanya dari aspek sejarah namun juga peran Kadipaten Pakualaman dalam mengembangkan dan melestarikan budaya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia berharap dengan adanya seminar ini dapat menambah pengetahuan untuk warga DIJ khususnya karena banyak yang belum mengetahui sejarah Kadipaten Pakualaman yang berada di Kulon Progo.

Seminar tersebut diikuti oleh guru SMA/K swasta se-DIJ, Rintisan Kelurahan Budaya, DPC HPI Kota Jogjakarta dan komunitas-komunitas sejarah. Selain itu juga turut mengundang narasumber yang kompeten.

Salah seorang narasumber yang berasal dari Pura Pakualaman, KPH Kusumoparastho menyatakan berdirinya Kadipaten Pakualaman bukan karena ambisi atau kekuasaan. “Tetapi akibat rasa cemas seorang putra mahkota terhadap putra seorang selir yang dianggap sebagai kompetitor,” jelasnya.

Ya, kemunculan Kadipaten Pakualaman tak lepas dari lahirnya putra HB I dengan seorang selir. Putra HB I dari selir itu diberi nama Pangeran Notokusumo. Dalam kedudukannya ia melampaui anak-anak HB I yang lain dan menimbulkan kecemburuan.

Lebih lanjut ia menambahkan, seiring berjalannya waktu dan perjalanan hidup yang berpasrah kepada Tuhan, berperilaku baik dan setia pada janji maka muncul kemuliaan. “Yang harus menjadi catatan jika Pangeran Notokusumo ingin jadi sultan bukan hal yang sulit karena saat itu memiliki hubungan yang baik dengan Inggris,” tegasnya. (cr4/mg1)