GUNUNGKIDUL-Rentetan peristiwa teror bom di Surabaya mengundang keprihatinan banyak pihak. Di Gunungkidul, para pelajar dari berbagai sekolah mengungkapkan kecamannya terhadap aksi teroris dengan pembacaan ikrar anti paham radikalisme. Mereka berasal dari SMA Muhammadiyah AL Mujahidin, Kepek, Wonosari dan SMK Giri Handayani, Wonosari.

Di SMA AL Mujahidin, pada saat upacara bendera berlangsung pembacaan ikrar dibacakan tenaga pendidik kemudian diikuti oleh pelajar. Kepala SMA Al Mujahiddin Wahyudi mengatakan, tindakan radikalisme hingga mengakibatkan korban jiwa sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Aksi pengeboman, bertolak belakang dengan ajaran Islam.”Oleh sebab itu kami bersama dengan peserta didik membacakan ikrar anti paham radikalisme,” kata Wahyudi Senin (14/5).

Dia menjelaskan, sikap tegas demikian diambil karena aksi kekerasan yang dilakukan teroris dengan membawa nama agama bertentangan dengan ajaran Islam yang Rahmatan Lil Alamin. Dalam ajaran Islam jika ada masalah atau ada perbedaan pendapat mengedepankan musyawarah dan tidak melakukan tindak anarkis. “Kami SMA Muhammadiyah Al Mujahiddin kami menolak keras aksi radikalisme,” tegasnya.

Selanjutnya, untuk membentengi diri dari paham radikalisme pihaknya meminta kepada semua pihak untuk memupuk akhlak baik sejak dini. Jangan mempelajari agama setenga-setengah namun harus menyeluruh atau kaffah.

Seorang murid, Erika Yeni Kristianti mengaku prihatin dengan peristiwa pengeboman di Surabaya. Sepanjang yang dia tahu, ajaran isalam lembah lembut dan tidak disebarkan dengan cara-cara kekerasan apa lagi sampai membunuh. “Kami ikut prihatin dengan kejadian pengeboman itu,” kata Yeni.

Di SMK Giri Handayani, penolakan paham radikalisme dilakukan dengan aksi membubuhkan tanda tangan pada lembaran kertas. Kegiatan itu sebagai penanda bahwa peserta didik menolak segala bentuk radikalisme. “Kami mendukung upaya kepolisian dalam mengusut tuntas tindakan terorisme ini,” kata guru agama SMK Giri Handayani Rohani Agustin.

Atas kejadian terorisme di Surabaya pihaknya menekankan kepada pelajar supaya berpegang teguh pada Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila. Perbedaan yang ada hendaknya memperkuat tali persaudaraan bukan sebaliknya. (gun/mg1)