Apa sih yang dipikirkan Gus Dur? Bagaimana dia bisa menyelesaikan konflik Aceh dan Papua hanya dengan ngobrol? Pertanyaan yang terus berputar di kepala Suaedy, sapaannya. Anggota Ombudsman RI ini memaparkan disertasinya yang berjudul “Tapak Visi Kewarganegaraan Kultural Abdurrahman Wahid dalam Penyelesaian Konflik Aceh dan Papua, 1999-2001” di Aula Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Senin (14/5). Lulus dengan predikat sangat memuaskan, Suaedy mendapat banyak sekali ucapan dan apresiasi dari tamu undangan dan audiens.

Dia mengagumi cara Gus Dur melakukan penyelesaian konflik, melalui pendekatan kultural dan personal dengan menghormati hak-hak kolektif masyarakat Aceh dan Papua. “Penyelesaian damai ini bersifat permanen,” ujarnya.

Dalam penelitiannya ke Aceh dan Papua, mantan pendiri dan direktur Eksekutif The Wahid Institute ini bertemu dengan tokoh kunci separatis maupun dari pemerintah. “Saya menemui pemerintah pusat seperti DPR dan ke media, yang tak hanya media tulis tapi juga radio,” ujarnya. Selain itu dia juga melakukan wawancara dengan para ahli dari Australia.

Dalam penelitiannya, Suaedy menemukan bahwa Gus Dur menggunakan kekuatan masyarakat sipil untuk membangun dialog, kedua dengan respect atau penghormatan dengan memberikan tempat dan kebebasan berpendapat. “Hasil kesepakatan itu menjadi dasar untuk kesepakatnan perdamaian selanjutnya,” tambah pria kelahiran Kebumen, 6 Mei 1963 ini.

Menurut Suaedy, tindakan seorang presiden melawan separatis itu sangat berisiko, justru menjadi tantangan baginya untuk mengungkapnya. “Tapi separatis oleh Gus Dur bukan dilihat sebagai musuh negara, tapi musuh pemerintah yang tidak adil,” tegasnya.

Bapak tiga anak ini mengatakan, cara Gus Dur bisa menjadi inspirasi untuk masyarakat menghadapi konflik yang kerap terjadi saat ini. Dia berpendapat harus ada revitalisasi tradisi di dalam masyarakat untuk menangkal konflik, termasuk terorisme yang baru-baru ini terjadi.

Dengan menghidupkan kembali tradisi dan merawat hubungan manusia satu sama yang lain. Karena, menurutnya, modernisme yang terjadi saat ini telah memisahkan tradisi dan masyarakat. “Masyarakat jadi tidak setia dengan tradisi,” tutur alumnus IAIN (kini UIN) Sunan Kalijaga Jogjakarta tahun 1990 ini. (laz/mg1)