Masyarakat Indonesia jangan mudah terprovokasi aksi teror bom Surabaya Minggu (13/5) pagi. Apalagi terpancing untuk membalas atau bertindak anarkistis dalam menyikapi teror tersebut. Itulah pesan tersirat yang disampaikan Aliansi Masyarakat Sipil Jogja saat menggelar aksi solidaritas kasus bom Surabaya di Simpang Empat Tugu Jogja tadi malam. Lewat aksi tersebut, masyarakat Jogjakarta menunjukkan semangat kebersamaan untuk melawan segala bentuk terorisme.

“Masyarakat harus tetap tenang dan waspada. Jangan mudah terpancing untuk aksi balasan lewat ujaran atau aksi kekerasan lainnya,” ucap koordinator aksi Mukhibullah.

Lewat aksi itu pula seluruh warga Jogjakarta diimbau untuk tidak terpengaruh dengan sentimen negatif atas dampak kasus teror bom Surabaya, yang bisa merusak kebersamaan.

Aksi solidaritas diwarnai penyalaan lilin sebagai bentuk belasungkawa terhadap para korban teror bom Surabaya. Tak kurang 60 elemen masyarakat Jogjakarta hadir dalam aksi tersebut.

Dalam kesempatan itu Mukhibullah membacakan pernyataan sikap

Aliansi Masyarakat Sipil Jogja. Salah satu poinnya, meminta aparat kepolisian segera mengungkap dan menindak otak aksi terorisme di Indonesia. Juga memperkuat perlindungan hak konstitusional seluruh warga negara.

Direktur Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS) Jogja Hairus Salim dalam orasinya juga meminta masyarakat tidak terjebak dengan teori maupun tafsir terkait aksi terorisme. Menurut dia teori dan tafsir apa pun tidak akan menganggap aksi terorisme bukan bentuk kejahatan kepada kemanusiaan. “Aksi terorisme ini menunjukkan ada bagian dari Indonesia yang sakit. Maka harus disembuhkan supaya Indonesia tetap jadi rumah bersama,” tuturnya.

Suki Ratnasari dari Jaring Perempuan Yogya turut mengecam teror bom Surabaya. Apalagi kasus tersebut diduga melibatkan perempuan dan anak-anak sebagai pelaku aksi. Menurut dia perempuan dan anak adalah simbol peradaban manut (penurut, Red). Karena itu, jika simbol peradaban itu dipakai sebagai senjata pemusnah, harkat dan martabat manusia menjadi taruhannya. (pra/yog/mg1)