JOGJA – Pemkot Jogja tak ambil pusing dengan keberadaan Kios Segoro Amarto di Pasar Beringharjo yang dicap tak berfungsi optimal. Bagaimana tidak, ketika suplai komoditas untuk kios tersebut kerap tersendat, pemkot justru lebih menggencarkan program sejenis berupa Angkringan Segoro Amarto. Sebagaimana yang diresmikan di Pasar Demangan Minggu (13/5). Angkringan tersebut sama fungsinya dengan Kios Segoro Amarto di Pasar Beringharjo. Yakni sebagai pusat informasi dan pengendalian harga komoditas kebutuhan pokok. Hanya, pertengahan pekan lalu Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIJ mendapati stok beras di Kios Segoro Amarto berkutu lantaran terlalu lama disimpan.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Purwadi mengatakan, keberadaan kios dan angkringan tersebut untuk mencegah permainan stok dan harga bahan pokok. Sebab, sudah menjadi rahasia umum tiap mendekati hari raya dan momen tertentu harga kebutuhan pokok kerap melonjak. Nah, hadirnya kios dan angkringan Segoro Amarto diharapkan bisa menjadi indikator harga sembako bagi pedagang maupun pembeli. “Supaya tak ada lagi lonjakan harga atau kelangkaan barang kebutuhan pangan,” ungkapnya.

Kendati demikian, peran aktif masyarakat tetap dibutuhkan. Jika ada yang mendapati penyimpangan harga atau kelangkaan komoditas, masyarakat diminta segera melapor ke pemerintah.

Menurut Heroe, konsep Segoro Amarto terkoneksi dengan Bulog Divre DIJ. Sehingga jika ada kelangkaan atau kenaikan barang, Bulog bisa langsung turun tangan. Hal ini guna menjaga stabilitas stok dan harga sembako. Termasuk saat hari raya sekalipun. Kios dan angkringan Segoro Amarto juga diproyeksikan untuk menjaga inflasi daerah. Selain di Demangan, Angkringan Segoro Amarto ada di Pasar Kranggan. Pemkot berencana terus menambah kios dan angkringan serupa di pasar-pasar tradisional.

“Untuk sementara tiga pasar itu dulu (Beringharjo, Kranggan, dan Demangan, Red) yang menjadi referensi pasar-pasar lain,” katanya.

Perwakilan Bulog Divre DIJ Dani Satrio meyakini, keberadaan kios maupun angkringan Segoro Amarto mampu menjadi pengendali harga. Sekaligus sebagai warning bagi pedagang yang suka memainkan harga sembako seenaknya sendiri. (dwi/yog/mg1)