SLEMAN – Siapa yang menyangka jam-jam atau arloji lawas dari merk-merk ternama di dunia bisa jadi investasi yang menjanjikan. Sebut saja jam Rolex produksi 1960-an bisa makin mahal karena hanya beberapa orang saja yang memiliki. Para kolektor arloji lawas bakal mencari arloji langka dengan nilai historis tinggi.

“Selain jadi investasi, arloji tua juga punya nilai historisnya sendiri. Seperti tahun kapan produksinya, pemilik pertamanya, cara mendapatkan barang itu seperti apa, itu yang buat para kolektor atau kolekdol (mengoleksi dan dijual) arloji tertarik,” ujar pengamat jam antik Arif Yulianto dalam pameran Arloji Kasepuhan di JCM Minggu (13/5).

Menurut Arif, nilai investasi pada jam tua lebih tinggi daripada menyimpan uang di bank. Ada rasa bangga apabila memiliki arloji yang sudah langka. Pasarnya sangat bagus di Indonesia.

Seperti jam tangan milik Adi Darmawan merk IWC Turler produksi 1967 yang hanya ada satu di Indonesia. Adi pun tidak berniat menjual barang tersebut sebagai salah satu investasi besar di masa depan.

“Saat ini belum mau jual, buat koleksi dulu aja karena udah langka,” ujar Adi di sela pameran.

Ada pula jam tangan Autavia Heuer produksi 1960 milik Adrian Nugroho. Jam tangan tersebut dijual seharga Rp 100 juta karena sudah jarang yang memiliki.

“Dari segi model unik dan tidak ada lagi model seperti ini di produksi baru,” ujar pria asal Jakarta ini.

KGPH Hadiwinoto sebagai dewan kehormatan kegiatan tersebut mengatakan jam tangan sekarang bukan lagi untuk petunjuk waktu semata, tapi juga fashion. Beberapa orang menyukai jam-jam lawas yang memang ada aura historis ketika dipakai.

“Saya mengoleksi jam tangan dari SMP. Saat ini pun saya masih pakai jam-jam lawas dan mesinnya masih bagus. Ada jam kantong warisan HB VII juga saya simpan,” kata Hadiwinoto.

Pameran Arloji Kasepuhan ini tak hanya mempertemukan para pecinta arloji lawas se-Indonesia. Sekaligus melestarikan barang-barang langka bersejarah.

Dalam pameran ini juga digelar lelang jam bermerk, talkshow seputar jam vintage, dan door prize. Pameran diikuti 35 stan yang datang dari beberapa daerah di Indonesia. (ita/iwa/mg1)