Homestay Rejo Mangunan, Dlingo, Bantul berhasil menjadi juara lomba Homestay Tingkat DIY Tahun 2018. Sukses ini diperoleh melalui rangkaian panjang penilaian sejak awal April lalu. Homestay Rejo juga berhasil mengungguli lima nominasi lainnya.

“Sebagai juara pertama, Homestay Rejo meraih nilai 570,” ujar salah anggota Dewan Juri Octo Lampito saat membacakan keputusan di Homestay Heritage Prenggan, Kotagede, Yogyakarta pada (11/5).

Octo membeberkan secara berturut-turut juara kedua ditempati Homestay Kayu Manis Nglinggo, Pagerharjo, Samigaluh, Kulonprogo dan pemenang ketiga diraih Homestay Nara Cempluk, Mangunan, Dlingo, Bantul. Masing-masing dengan nilai 558 dan 552.

Harapan satu diraih Homestay Srikoyo, Bejiharjo, Karangmojo Gunungkidul dengan nilai 510, disusul harapan dua Homestay Brayut, Pendowoharjo, Sleman mengumpulkan nilai 480 dan harapan tiga Homestay Marsudi, Pentingsari, Cakringan, Sleman dengan nilai 474.

Dalam grand final itu setiap finalis unjuk kebolehan menyajikan makanan khas dari desa homestay tersebut berada. Aneka makanan tersebut dimasak dan diolah di lokasi acara. Sebagai juara, Homestay Rejo menyajikan berbagai makanan seperti tiwul, pisang bakar dan lainnya. Demikian juga finalis lainnya.

Dari enam finalis, Homestay Marsudi dari Pentingsari, Cakringan berhalangan datang. Peserta dari lereng Merapi itu batal datang ke lokasi karena paginya Merapi mengalami letusan freatik. “Meski tidak datang, kami tetap menilai,” lanjut Octo.

Dikatakan, ada beberapa kriteria ditetapkan dewan juri. Homestay harus menyatu dengan rumah penduduk di kawasan desa atau kampung wisata. Jumlah kamarnya dibatasi tidak lebih dari empat kamar. Homestay juga masih dihuni pemilik rumah. Kamar maupun toilet dengan standardisasi hotel berbintang.

“Ada komunikasi dan interaksi antara tamu dengan pemilik rumah,” imbuh Kepala Seksi Kelembagaan Dinas Pariwisata DIY Titik Sulistyani yang juga masuk dewan juri. Menurut dia, homestay yang dinilai bukan pondok wisata atau rumah wisata.

Penyerahan tropi dan hadiah bagi juara pertama disampaikan Kepala Dinas Pariwisata DIY Aris Riyanta. Dalam sambutannya Aris menyatakan, pemenang pertama lomba Homestay Tingkat DIY Tahun 2018 berhak maju ke tingkat nasional.

Diingatkan, keberadaan homestay tidak bisa dilepaskan dari desa atau kampung wisata. Konsep yang selama ini dikembangkan adalah community base tourism (CBT) atau pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.

“CBT merupakan konsep pengembangan destinasi wisata melalui pemberdayaan masyarakat,” katanya.

Bentuknya, masyarakat turut andil dalam perencanaan, pengelolaan dan pemberian suara berupa keputusan dalam pembangunan. Dengan demikian, desa dan kampung wisata termasuk homestay-nya harus mampu memenuhi standar. Kemudian memberikan dampak sosial dan lingkungan. Selain itu, bisa memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.

Aris menambahkan, sektor pariwisata berkembang lumayan pesat. Kontribusi pariwisata semakin meningkat. “Sekarang menempati peringkat kedua penyumbang PDRB dari 17 lapangan usaha di DIY,” ujar Aris.

Kontribusi itu terutama berasal dari akomodasi dan makan minum. Akomodasi itu meliputi jasa penginapan, hotel, homestay dan lainnya. Sedangkan makan minum merupakan bagian dari usaha kuliner. Selama beberapa tahun terakhir usaha kuliner di Jogja juga tumbuh dan berkembang. Semua itu merupakan dampak dari berkembangnya industri pariwisata di DIY. Apalagi kita sekarang punya 125 desa wisata yang siap dikunjungi wisatawan nusantara maupun mancanegara. (kus/mg1)