MUNGKID – Salah satu tradisi unik di Kabupaten Magelang menyambut bulan suci Ramadan berubah menjadi aksi keprihatinan. Ratusan orang yang hendak melakukan lempar-lemparan air dalam Sadranan Bajong Banyu di Dusun Dawung, Banjarnegoro, Mertoyudan, akhirnya memilih untuk mengheningkan cipta. Mereka berdoa agar tidak ada lagi aksi teror bom di Bumi Pertiwi.

“Mari kita sejenak menundukkan kepala, sebagai tanda keprihatinan atas masih adanya orang-orang yang merasa benar sendiri di Bumi Pertiwi, dan berharap teror kemanusiaan ini tidak ada lagi,” ajak Ketua Karang Taruna Banjarnegoro Gepeng Nugroho Minggu (13/5).

Gepeng yang juga ketua panitia berharap tradisi sadranan dalam rangka mensucikan diri menjelang bulan puasa itu lebih memanusiakan manusia. Sehingga tidak perlu lagi ada aksi-aksi teror berikutnya, yang hanya mengoyak rasa kemanusiaan bangsa.

“Hal seperti aksi bom jangan sampai terulang. Harus ada hubungan yang baik antarmanusia. Seperti dalam aksi serang-serangan air dalam tradisi ini. Mereka diserang maupun menyerang, tetapi sama-sama senang, demi kerukunan umat. Tidak membedakan mana yang putih atau hitam, juga yang kaya maupun miskin,” tuturnya.

Selain ada aksi keprihatinan, dusun ini juga mendeklarasikan sebagai Kampung Kostum Art Festival. Mereka memamerkan beberapa kostum festival berupa kelelawar. Kostum ini menjadi pembuka prosesi pengambilan air di Tuk Dawung.

“Tuk Dawung merupakan sumber mata air yang telah ‘menghidupi’ seluruh rakyat Dawung dan sekitarnya. Sebagai sumber pengariran lahan pertanian, air minum, membersihkan diri, dan kebutuhan lainnya,” jelas Gepeng.

Bajong Banyu adalah tradisi yang selalu dinanti-nantikan warga Dusun Dawung menjelang Ramadan. Tradisi yang digelar rutin setiap tahun ini diikuti seluruh warga, mulai anak-anak sampai orang tua. Mereka berkumpul di lapangan desa sejak pagi hingga sore hari. (dem/laz/mg1)