MANTAN Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif menyebut akasi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya sebagai tindakan super biadab. Buya Syafii, begitu sapaan akrabnya, menilai aksi tersebut telah melampaui batas. Terlebih para pelaku diduga merupakan satu keluarga yang terdiri atas kedua orang tua dan empat anak mereka.

Untuk menanggulangi tindak kekerasan serupa, tegas Buya Syafii, masyarakat dan pemerintah harus satu suara. “Tidak ada perlakuan istimewa. Apalagi membela para pelaku aksi teror,” tegasnya. Buya Syafii juga meminta masyarakat lebih kritis menyikapi aksi-aksi massa belakangan ini. “Pemerintah, khususnya kepolisian harus lebih sigap dan tegas,” pintanya.

Melihat fakta yang terjadi Buya Syafii mendorong kepolisian mengevaluasi dan meningkatkan sistem pengamanan. Sebab, sejauh ini aksi teror masih kerap terjadi. Bahkan, teror bom Surabaya tak berjeda lama setelah aksi penyekapan dan pembunuhan polisi di Rutan Cabang Salemba Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. “Jika terus dibiarkan, legitimasi pemerintah, khususnya kepolisian bisa berkurang,” ucapnya.

Jika demikian, Buya Syafii khawatir akan muncul anggapan pemerintah tidak mampu menjaga serta mengendalikan ketertiban dan keamanan di Indonesia. Peran intelejen harus ditingkatkan untuk mencegah aksi teror.

Buya Syafii tak menampik adanya kesan adu domba dalam setiap aksi teror. “Untungnya dalam aksi ini seluruh pihak bisa menahan diri,” katanya. Bahkan di beberapa daerah bermunculan gerakan melawan terorisme. Hal itu menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia tetap kompak dan tak mudah dipecah belah.

“Pemerintah dan polisi harus proaktif agar tidak kecolongan terus,” sindirnya.

Kekhawatiran lain mengingat saat ini memasuki tahun politik. Kondisi ini bisa berlangsung lama jika tak segera diantisipasi. Upaya apa pun akan dilakukan para teroris untuk memecah harmoni Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tujuannya untuk membuat kondisi dan lingkungan masyarakat semakin tidak kondusif. “Tahun politik bisa liar tafsirnya,” ucapnya.

Para pemuka agama, pinta Buya Syafii, juga harus satu suara. Bukan hanya menyesali, tapi ada upaya nyata agar umat beragam tidak salah tafsir tentang pengetahuan agama masing-masing. “Agar tak ada lagi yang menafsirkan seenaknya sendiri,” pesannya.

Sementara itu, Sekretaris LPBH PWNU DIJ Gugun El Guyanie mengingatkan seluruh elemen masyarakat untuk tidak menyeret kasus bom Surabaya ke isu politis dan agama.

“Terorisme, siapa pun korban dan aktornya, adalah kebiadaban atau extra ordinary crime. Tidak ada kaitan dengan agama apa pun dan kelompok politik mana pun,” ujarnya.

Dikatakan, semua agama mengajarkan cinta damai dan menjunjung tinggi nyawa makhluk Tuhan.

Gugun mengatakan, Alquran mengajarkan: barang siapa membunuh satu jiwa sama saja membinasakan kehidupan seluruh umat manusia. Sebaliknya, barang siapa yang melindungi satu jiwa, maka sama saja menjaga kehidupan seluruh ciptaan Allah.

Menurut Gugun, isu terorisme sangt potensial menjadi materi kampanye antarkekuatan politik yang akan bertarung dalam pesta demokrasi. Baik pilkada maupun pemilu legislatif. Hal ini bisa menyulut kelompok tertentu untuk menyudutkan agama tertentu dengan isu jihad. Atau kubu lain yang menyudutkan pemerintah dengan tudingan pengalihan isu atau buruknya kinerja Polri.

Maka dari itu, lanjut Gugun, untuk mencegah semua hal tersebut seluruh masyarakat harus melawan segala bentuk terorisme dengan menjunjung tinggi supremasi hukum.

“Dengan meletakkan supremasi hukum di atas penghakiman dan politisasi teror gereja, maka negara akan tetap bermartabat. Takyat tetap hidup damai tanpa rasa takut dari ancaman teror apa pun,” ungkapnya.

Ketua PC NU Gunungkidul Arif Gunadi mendorong semua pihak mengedepankan pemikiran langkah antisipatif agar kasus serupa tak terulang di kemudian hari.

“Dengan alasan apa pun aksi teror tidak boleh ditoleransi. Para pelaku harus segera diungkap. Dan dalang di balik peristiwa biadab itu harus ditangkap dan diproses hukum,” pintanya.

Di bagian lain, Arif mengimbau masyarakat Jogjakarta tak terpancing isu-isu yang berkembang pasca teror bom Surabaya.(dwi/gun/yog/mg1)