TERORISME yang meledak karena bom di 3 gereja di Surabaya hari ini, tidak boleh diseret dalam isu politis dan agama.

Terorisme, siapapun korban dan aktornya, adalah kebiadaban atau extra ordinary crime.

Tidak ada kaitannya dengan agama manapun, dan tdk ada kaitannya dengan kelompok politik manapun.

Ajaran suci semua agama mengajarkan cinta damai dan menjunjung tinggi nyawa makhluk Tuhan.

Di dalam Alquran mengajarkan: “barangsiapa membunuh satu jiwa, sama saja membinasakan kehidupan seluruh umat manusia. Sebaliknya, barangsiapa yang melindungi satu jiwa, maka sama saja menjaga kehidupan seluruh ciptaan Allah.”

Di tahun politik, satu bulan menjelang Pilkada serentak, satu tahun menjelang Pemilu 2019, isu terorisme sangat potensial utk dijadikan materi kampanye antar kekuatan politik yang akan bertarung dalam panggung demokrasi.

Tentu ada kelompok yg akan menyudutkan agama tertentu dengan isu jihad. Sebaliknya akan muncul kubu yang menyudutkan pemerintah yang berkuasa dengan tudingan pengalihan isu, lemah dan buruknya kinerja aparatur Polri.

Sekali lagi, kita semua, yang masih mencintai tanah air, tempat kita lahir, bumi tempat kita bersujud dengan khusyuk, negeri yang indah seperti penggalan surga titipan Tuhan, harus kita rawat dari hama kebiadaban yang bernama terorisme.

Maka jalan selamat bagi negeri yang paling disayang Tuhan ini adalah menjunjung tinggi supremasi hukum.

Bahwa, kita semua akan mengawal dan mendukung aparatur negara dan penegak hukum bekerja menuntaskan tragedi bom gereja Surabaya.

Dengan meletakkan supremasi hukum di atas penghakiman dan politisasi teror gereja, negara akan tetap bermartabat, rakyat tetap hidup damai, tanpa rasa takut dari ancaman teror apapun.

Kepada saudara2 kita umat Kristiani, kita sampaikan turut berduka yang setulusnya. Kepada seluruh korban bom gereja di surabaya, semoga Allah menghimpun dalam catatan mati sebagai syuhada yang setia kepada tanah air dan khusyuk menyembah Tuhannya. Salam Indonesia damai. (ila/mg1)

*Penulis adalah Dosen Hukum Tata Negara UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta dan Sekretaris LPBH PWNU DIJ