GUNUNGKIDUL – Sebanyak enam seniman mendapat penghargaan pelestari dan pegiat seni budaya Gunungkidul 2018. Pemberian penghargaan ini diberikan dalam rangkaian Hari Jadi Gunungkidul ke 187 yang berlangsung di Alun-alun Wonosari Kamis (10/5) malam.

Enam seniman tersebut dinilai telah berjasa terhadap pelestarian seni dan budaya di Gunungkidul. Pemkab kemudian memberikan piagam penghargaan serta uang tunai masing-masing Rp 15 juta sebagai tali asih.

Kepala Dinas Kebudayaan Gunungkidul Agus Kamtono mengatakan, enam seniman layak menerima penghargaan karena dinilai setia dan teguh dalam melestarikan serta mengembangkan seni dan budaya tradisional.

“Kami akui sebelumnya para penggiat seni dan budaya demang kurang mendapatkan perhatian,” kata Agus Kamtono.

Mantan Kabag Humas dan Protokal Pemkab Gunungkidul itu mengungkapkan, selama ini mereka tanpa dibayar bahkan terkadang harus nombok demi terselenggaranya pagelaran maupun menjaga bangunan bersejarah. “Dilakukan dengan tekun menularkan ilmunya kepada generasi muda,” ujarnya.

Menurutnya, enam seniman terbaik dinilai oleh tim besutan Dinas Kebudayaan dan Dewan Kebudayaan Gunungkidul serta masyarakat umum. Dinilai berdasarkan rekam jejak, prestasi, dan parameter-paramater lain.

Adapun para seniman yang mendapatkan penghargaan adalah Istiyad, pemilik rumah joglo legendaris. Rumah joglo di Girisubo tersebut sebelumnya sempat dijadikan sebagai kantor Kawedanan pada tahun 1929 silam. Kedua CB Supriyanto berhasil menjaga seni dan tradisi asli Gunungkidul sehingga tetap lestari.

Kemudian Ki Yohanes Suntono asal Girikarto, Kecamatan Panggang. Ki Suntono selama ini memang dikenal sebagai salah satu seniman ketoprak terbaik dan terkonsisten. Tak hanya piawai dalam memainkan peran, dia juga mahir dalam menulis naskah maupun menyutradarai suatu pentas ketoprak.

Selanjutnya seniman kerawitan, Ki Puji Waluyo dari Wonosari. Tak hanya berkomitmen dalam menggelar pentas saja, akan tetapi Puji juga sangat member perhatian pada regenerasi. Kelima adalah Ki Heri Nugroho, asal Ledoksari, Kecamatan Wonosari. Kiprah Heri di dunia pedalangan sendiri sudah dilakukan sejak tahun 1988. Hingga saat ini, anggota DPRD Gunungkidul ini masih aktif dalam seni pedalangan, bahkan didapuk sebagai ketua Pepadi, sebuah organisasi para dalang Gunungkidul.

Terakhir penari legendaries level nasional Sri Suhartanti asal Pundungsari, Kecamatan Semin. Atas prestasinya di kancah nasional dan internasional, seniman tari kawakan ini telah mengharumkan nama Gunungkidul di kancah seni. Dia juga saat ini membangun Taman Mekarsari Semin.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul Badingah memberikan apresiasi sangat tinggi kepada seluruh penerima penghargaan maupun seniman. Dia berharap penghargaan bisa memacu para pegiat seni dan budaya agar lebih bersemangat dalam mengembangkan seni dan budaya.

“Kepada generasi muda agar bergabung dan senantiasa memberikan rasa hormat terhadap kesenian dan kebudayaan tradisional Gunungkidul,” kata Badingah. (gun/mg1)