Memegang handy talky (HT) dan selalu mendengarkan pembaruan informasi. Saat bertugas, raut muka tampak serius. Padahal, sebenarnya ia adalah pria yang ramah. Inilah gambaran Kiswanta.

Pria 42 tahun itu lantas menuturkan pengalamannya menjadi anggota SAR yang telah dijalaninya selama delapan tahun. “Menjadi SAR itu panggilan jiwa,” ungkapnya.

Ya, jika tidak ada panggilan jiwa, maka tidak akan bisa menjadi SAR. Menurutnya, tugas SAR adalah berat dan tidak semua orang dapat melakukannya.

“Dulu saya memang tak berniat untuk menjadi SAR,” kenangnya. Namun seiring berjalannya waktu, batinnya mulai terketuk. Pria asli Kaliurang ini merasa dirinya yang asli warga lereng Merapi merasa wajib untuk menjaga keselamatan warganya ketika ada bencana seperti erupsi.

Mulai masuk ke dunia SAR dari tahun 2010, ia langsung mendapat cobaan erupsi Merapi yang cukup dahsyat itu. “Dulu, dari situlah saya mendapat banyak sekali ilmu,” jelasnya.

Ia menceritakan kembali kala itu harus siap berjaga 24 jam dan harus tanggap membantu warga. Kiswanta juga lantas paham apa yang harus dilakukan ketika ada bencana. “Yang penting tidak panik,” katanya.

Asam garam dalam menjalani kegiatannya sebagai Linmas SAR telah dilaluinya. Mulai dari empat hari berada di hutan hingga jarang pulang. Namun, semua itu dilakukannya atas dasar ikhlas dan untuk kepentingan sosial. “Orang yang tidak punya jiwa sosial, tidak bisa menjadi anggota SAR,” tegasnya.

Dalam melaksanakan tugas, ia selalu berpesan kepada anggotanya agar selalu menjaga kondisi prima. Tujuannya,tak lain dan tak bukan untuk membuat lancar semua proses ketika di lapangan. Baik proses evakuasi maupun proses yang lain.

Selain itu ia juga berpesan agar dalam menjalani tugas selalu ikhlas karena pada dasarnya menjadi anggota SAR tunuannya untuk kemanusiaan. “Kami di SAR harus ikhlas, karena memang tidak dibayar,” tandas Kiswanta. (laz/mg1)