JOGJA – Aula lantai tiga Pasar Beringharjo dipenuhi ibu-ibu buruh gendong yang tergabung dalam Keluarga Paguyuban Buruh Gendong Sayuk Rukun, Kamis (26/4). Hadir juga buruh gendong dari Pasar Giwangan, Pasar Gamping, dan Pasar Kranggan.

Mereka mengikuti Rapat Dengar Pendapat Masyarakat MPR RI bersama Siti Hediati Soeharto. Perempuan yang akrab disapa Mbak Titiek ini mengajak untuk saling menghormati, menghargai, dan berbuat baik pada sesama, tanpa memandang unsur golongan ataupun agama, sebagai ajaran luhur bangsa Indonesia yang harus dimiliki masyarakat. Dia berharap sosialisasi ini dapat diaplikasikan di kehidupan sehari-hari.

“Mari kita jaga semangat gotong royong dan saling berbuat baik pada sesama, tanpa melihat golongan atau agama,” ujarnya. Selain sosialisasi empat Pilar, dia juga menampung aspirasi para buruh gendong terkait fasilitas kesehatan.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jogja Maryustion Tonang mengatakan, buruh gendong merupakan mata rantai aktivitas di pasar tradisional. Sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap kesehatan buruh gendong, sudah ada unit kesehatan di Pasar Beringharjo.

Namun dia melihat pemanfaatannya sudah menurun. Karena para buruh gendong yang enggan membayar. Dijelaskan, letak permasalahannya pada mayoritas buruh gendong yang bukan warga Kota Jogja, sehingga biaya pengobatan tidak bisa digratiskan.

Fasilitas BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan untuk buruh gendong juga sebagai bentuk dukungan pemerintah.”Monggo silahkan memanfaatkan fasilitas BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, dengan iuran Rp 25 ribu per bulan saya yakin sanggup,” ajaknya.

Selama ini juga telah dilakukan pula simpan pinjam secara mikro di paguyuban, untuk membantu kesulitan para buruh gendong. Titiek berjanji akan membantu mengisi kas tersebut. “Insya Allah saya akan bantu kasnya, mudah-mudahan dananya dapat bergulir,” janjinya. (cr3/din/mg1)