Bagi seniman maupun masyarakat yang datang ke Studio Mendut milik Sutanto di Mendut, Kabupaten Magelang, bakal mengenal dua bujangan yang akan selalu menyambut tamu dengan senyuman. Muh dan Joko juga akan menyajikan minuman hangat kepada tamu, sesuai permintaan. Kedua remaja ini juga akan membersihkan studio usai ada tamu atau pun kegiatan.

Hal berbeda mereka tunjukkan dalam pementasan Tunas Gunung kemarin. Keduanya berpakaian putih-putih dan nampak menampilkan tarian. Sajian mereka diiringi musik secara live. Tepuk tangan dan sambutan meriah mereka terima dari penonton.

“Ya, Muh dan Joko ini adalah tukang bikin wedang di sini. Tetapi khusus kegiatan ini, mereka ingin tampil. Mereka ingin difoto.Mereka ingin menghibur,” kata Sutanto.

Dua orang ini menampilkan tarian berjudul Tari Tanah. Sebelumnya komunitas ini juga sempat menampilkan baca puisi dari korban erupsi Gunung Merapi. Juga penampilan kesenian yang menggambarkan ke-“ndeso”-an mereka.

Kata ndeso ini memang sangat lekat dengan KLG. Dalam kegiatan bertajuk Tunas Gunung, mereka ingin menanamkan kultur desa kepada kaum milenial agar tidak tercabut dari akar budaya bangsa. Pementasan diikuti 16 grup kesenian dengan para anggota kalangan remaja dan pemuda-pemudi di bawah usia 20 tahun dari berbagai tempat, baik di Kabupaten Magelang maupun Kota Magelang.

Mereka menyuguhkan berbagai macam tarian kontemporer desa diiringi musik secara langsung dari seperangkat gamelan maupun musik dari rekaman. Antara lain berjudul Tari Tanah, Sulap Seni, Tarian Wolak Walik Jagat, Tembang Mocopat, Tarian Reresik Jagat, Tarian Topeng Rimba, Tarian Rejowinangun, Tarian Padmasari, Tarian Lenggasor, Tarian Kukilo Gunung, Tarian Bregodo Limo, Tarian Goni,Tari Tangguh, Tarian Gedrug Denowo, Tarian Sigraking Prajurit, dan Tarian Topeng Ayu. Pementasan dihantarkan oleh dua pembawa acara remaja “Tunas Gunung”, Atika dan Via.

Hal menarik dalam acara kali ini adalah setiap kelompok secara bergantian menyuguhkan kesenian masing-masing. Mereka juga sekaligus sebagai penonton pergelaran yang juga disaksikan masyarakat sekitar Mendut dan warga sekitar. Ditambah keluarga dan kawan-kawan para seniman Tunas Gunung itu.

“Jadi pementasan ini memang digarap secara saksama, bukan sekadar setiap kelompok mementaskan keseniannya. Tapi juga mereka didorong untuk menyaksikan kelompok lain yang sedang pentas. Saling pentas dan saling menonton. Mereka bisa saling menyerap inspirasi dan mengapresiasi,” ujar salah seorang petinggi KLG, Riyadi.

Pria yang juga pimpinan Padepokan Warga Budoyo Gejayan Desa Banyusidi, Pakis, Kabupaten Magelang ini juga menegaskan hal yang utama dalam pergelaran itu bukan sekadar pentas kesenian. Melainkan mempertemukan secara langsung kalangan milenial dalam kemasan kultur budaya desa.

“Kalau dalam era digital ini kaum milenial melalui gawai dan media sosial mereka mudah bertemu melalui dunia maya. Melalui kesenian ini mereka bertemu secara langsung. Bukankah kesenian itu sebagai sarana untuk berkumpul dan bertemu,” tuturnya.

Lebih ditegaskan lagi oleh Sutanto Mendut bahwa persoalan kesenian bukan sekadar pakem dan nonpakem. Tetapi juga menekankan bahwa kesenian menjadi ajang pertemuan antarmanusia.

“Segala tarian yang mereka pentaskan ini bukan untuk seniman, tetapi untuk `menungsa` (manusia). Ini untuk anak-anak manusia. Untuk pikiran, tenaga, dan spirit, supaya mereka tetap mencintai budaya bangsa sendiri,” tandasnya. (laz/mg1)