PURWOREJO – Potensi perbukitan menjadi modal bagi Desa Cacaban Kidul, Kecamatan Bener, untuk menggerakkan sektor perekonomian masyarakat. Hanya semua masih berproses dan diharapkan niat itu akan terealisasi di tahun 2019.

Ya, keberadaan Gunung Mangguljoyo yang berdiri menjulang di ujung desa, kini tengah digarap seoptimal mungkin menggunakan dana desa (DD). Setidaknya nyaris 100 persen dari dana yang ada diarahkan untuk membangun kawasan itu. Dimulai tahun 2017, rencananya penerimaan DD di tahun ini juga akan diarahkan ke sana.

Kami berangkat dari nol, dulu hanya gundukan pegunungan biasa dan hanya ada jalan-jalan lorong tikus ibaratnya. Tapi dengan semangat dan kerja keras semua, kini sudah mulai tampak hasilnya,” ujar salah seorang tokoh Desa Cacaban Kidul, Zaenal Mustofa, Senin (7/5).

Dikatakan, pihaknya perlu menurunkan alat berat untuk membuat jalan utama menuju kawasan Gunung Manggul. Menawarkan pemandangan alam yang menarik dengan berbagai latar belakang, keberadaan lokasi itu bisa menjadi salah satu tujuan wisata di Jawa Tengah.

“Sebenarnya niat awal pengolahan Gunung Manggul itu untuk menopang Gunung Kunir di Desa Benowo. Tapi seiring perkembangan waktu, arah berubah karena kami juga akan mendukung keberadaan Candi Borobudur yang tidak terlalu jauh dari sini,” jelas Zaenal seraya mengatakan lahan yang digarap mencapai 2.000 m2.

Masyarakat telah diberikan pengertian akan maksud dari penggelontoran DD yang ada. Di lain desa diarahkan untuk peningkatan infrastruktur desa berupa jalan, irigasi dan lainnya, di Cacaban Kidul diarahkan untuk persiapan lokasi wisata.

“Kondisi gunung itu memang lumayan berat. Di beberapa lokasi kami perlu membuat jembatan khusus untuk mendukung ke titik utama. Nantinya di salah satu tempat rencanannya juga akan dibuat jembatan kaca,” tambah Zaenal.

Kepala Desa Caban Kidul Nurhasim mengatakan, meski kini sudah ada masyarakat yang mengunjungi, pihaknya belum resmi membuka kawasan itu. Ia melihat ada banyak konsekuensi dari pembukaan sebuah lokasi, di mana harus ada jaminan keamanan bagi pengunjung.

“Terus terang kami belum bisa menjamin safety-nya. Semua memang masih berproses. Katakan 2019 itu sudah jadi tapi memang belum optimal, kami akan melengkapinya sambil jalan,” kata Nurhasim.

Ditambahkan, sosialisasi tentang penggunaan DD memang cukup berat. Ia harus bisa memberikan pengertian yang tepat kepada masyarakat. Andaikan dana itu dipergunakan seperti halnya desa lainnya, praktis pengolahan lokasi wisata tidak akan jadi.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo Agung Wibowo mengaku mendukung langkah yang dilakukan pemerintah desa Cacaban Kidul. Keberadaan destinasi di desa itu diharapkan bisa mendukung Badan Otorita Borobudur (BOB)

“Mereka sudah membuat langkah maju dalam menggarap destinasi secara optimal. Ada master plan yang dibuat dan selanjutnya dikerjakan secara bertahap,” kata Agung. (udi/laz/mg1)