BERDOA: Seorang Peziarah berzikir mendoakan anggota keluarga yang telah mendahului di Kompleks Makam Sewu. Foto atas, kirab budaya menjadi salah satu rangkaian tradisi nyadran di Makam Sewu. (SUKARNI MEGAWATI/RADAR JOGJA))

BANTUL– Tradisi Nyadran kembali diselenggarakan di Kompleks Makam Sewu Senin (7/5). Tradisi peninggalan para leluhur warga setempat ini bertujuan untuk kirim doa. Terutama, kepada orang tua dan leluhur.

Ada serangkaian acara dalam tradisi yang telah lama mengakar ini. Di antaranya, kirab budaya. Beberapa gunungan berisi berbagai hasil bumi dan uba rampe ini diarak dari balai desa Wijirejo, Pandak. Menuju pendapa di kompleks makam.

Menurut Ketua Panitia Tradisi Nyadran Makam Sewu Hariyadi, gunungan merupakan simbol sedekah sekaligus rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ya, isi gunungan ini akan diberikan kepada keluarga kurang mampu. Menariknya, pemberian sedekah ini diniati atas nama orang tua atau leluhur yang telah meninggal dunia. Itu dengan harapan pahala mengalir kepada mereka.

“Prosesi kirab sebagai bentuk ajakan kepada masyarakat untuk sedekah,” ucap Haryadi menyebut tradisi nyadran digelar setiap Senin setelah tanggal 20 Ruwah.

Wakil Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menilai, tradisi nyadran sebagai salah satu bentuk berbakti kepada orang tua. Melalui tradisi nyadran, anak mendoakan orang tua atau leluhur yang telah meninggal dunia.

“Salah satu ciri anak soleh itu, mau mendoakan orangtuanya dan leluhurnya yang sudah tiada,” ungkap Halim dalam sambutannya.

Dikatakan, pemkab apresiatif terhadap masyarakat yang terus melestarikan tradisi budaya. Tak terkecuali budaya relijius seperti nyadran. Menurutnya, nyadran didasari norma Islam. Yaitu berbakti kepada kedua orang tua. (cr2/zam/mg1)