JOGJA – Tak heran jika masalah kemiskinan terus melanda DIJ. Itu tak lepas banyaknya penganggur usia produktif. Angka pengangguran di Kota Jogja saja mencapai 6.100 orang per Desember 2017 lalu. Tingkat pengangguran didominasi lulusan SMA/SMK. Data tersebut berbeda dengan hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS), yang menunjukkan jumlah lebih banyak hampir dua kali lipat.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (KUKM-Nakertrans) Kota Jogja Lucy Irawati tak menampik hal tersebut. Menurutnya, data BPS lebih banyak dibanding pemkot lantaran adanya perbedaan metode survei berdasarkan status kependudukan. Menurut Lucy, lembaganya hanya mendata warga Kota Jogja berdasarkan kepemilikan kartu tanda penduduk dengan batasan usia produktif 15-64 tahun. Sementara perhitungan BPS dilakukan terhadap semua warga yang berdomisili di Kota Jogja, tanpa memperhatikan identitas asal kependudukan. Dan tidak ada batasan usia. Semua warga yang tidak bekerja dengan usia lebih dari 15 tahun didata sebagai pengangguran.

Lucy menilai, job fair merupakan salah satu langkah tepat untuk menekan angka pengangguran tersebut. Langkah itu ditempuh dinas KUKM-Nakertrans Kota Jogja.

Job Fair yang digelar di Jogja Expo Center (JEC) melibatkan 40 perusahan dengan total 5 ribu lowongan pekerjaan. Calon pelamar diutamakan lulusan SMA/SMK dan sarjana. “Lewat job fair ini kami berharap angka pengangguran bisa terus menurun,” ungkap Lucy di sela pembukaan job fair di JEC Senin (7/5). Job fair diselenggarakan selama tiga hari pada 7-9 Mei.

Salah seorang pengunjung job fair, Tri Handayani, mengaku terbantu dengan program lowongan pekerjaan yang diselenggarakan pemkot. Terlebih para calon pelamar bisa mengurus surat pencari kerja (surat kuning, Red) di lokasi job fair. Dengan begitu mereka tak perlu repot mengurus surat kuning di kantor KUKM-Nakertrans Kota Jogja. (pra/yog/mg1)