BANTUL – Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Jogja serius berupaya menelusuri berbagai warisan sejarah. Terutama, tetenger, monumen, hingga petilasan. Tujuannya untuk mengungkap rangkaian peristiwa di balik berbagai benda bersejarah yang tersebar di berbagai titik di Kota Jogja tersebut. Agar masyarakat mengetahui sejarah penting di balik warisan benda bersejarah di wilayah mereka.

Keseriusan itu ditandai dengan seminar sejarah bertajuk Merekontruksi Sejarah Kota Yogyakarta melalui Tetenger, Monumen, dan Petilasan, Senin (7/5). Seminar yang digelar di Hotel Grand Dafam ini menghadirkan tiga narasumber. Yaitu, Darto Harnoko dari Balai Pelestarian DIY, dan Yuwono Sri Suwito serta Sri Margana dari Universitas Gajah Mada.

Dalam paparannya, Darto menyebut Kota Jogja sebagai kota perjuangan. Itu lantaran Kota Jogja punya andil besar dalam sejarah perjuangan. Baik saat penjajahan Belanda maupun Jepang. Bukan hanya itu. Kota Jogja juga memiliki segudang bangunan bersejarah. Sebut saja, Benteng Vredeburg, gedung BNI 1946, Gereja Pugeran, dan Dalem Joyodipuran.

“Masih banyak tempat bersejarah lain yang masih perlu dikaji komprehensif,” ucapnya.

Senada disampaikan Yuwono Sri Suwito. Dia menekankan, tetenger, monumen, maupun petilasan adalah warisan sekaligus cagar budaya. Kendati begitu, menurutnya, ada perbedaan signifikan di antara pengkategorian ini. Tetenger, misalnya, merupakan jejak tentang keberadaan bangunan bersejarah yang masih berwujud riil. Contohnya, bangunan Tamansari dan Pojok Beteng.

Sedangkan monumen adalah tempat pengarsipan benda bersejarah. Lokasinya bisa berada di tempat kejadian atau di wilayah lain. Contohnya, Monumen Jogja Kembali. Yang terakhir adalah petilasan. Menurutnya, petilasan merupakan jejak sejarah yang diketahui lokasinya. Hanya, bentuknya sudah hilang lantaran pembangunan atau faktor lain.

Sementara itu, Kepala Seksi Sejarah Disbud Kota Jogja Tri Sotya Atmi berharap seluruh peserta seminar mengetahui berbagai peristiwa bersejarah di balik tetenger, monumen, maupun petilasan.”Di mana hal tersebut menandakan keistimewaan Jogja,” tambahnya.

Seminar dihadiri guru SMP, SMA, dan SMK Negeri se-Kota Jogja, dan DPC HPI Kota Jogja. Juga, 18 Rintisan Kelurahan Budaya Jogjakarta dan Komunitas Sejarah dan Museum. (cr6/zam/mg1)