Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat memiliki empat masjid yang berfungsi sebagai pathok negoro (batas wilayah). Salah satunya ada di Mlangi yang menandakan batas sebelah barat.

Keberadaan masjid Pathok Negoro Mlati tak bisa dilepaskan dengan peran Kiai Nur Iman, sesepuh Mlagi kala itu.

Sosok religius ini bukanlah orang sembarangan. Dia tercatat masih kerabat Sri Sultan Hamengku Buwono I, raja pertama Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Nama aslinya Pangeran Hangabehi Sandiyo.

Merunut sejarah, Kiai Nur Iman mendapatkan tanah pardikan dari keraton. Disebut Mlangi berasal dari kata “mulangi” yang artinya mengajar. “Peran Kiai Nur Iman adalah mengajar. Dalam hal ini syiar Islam kepada warga Jogjakarta,” tutur pengasuh Pondok Pesantren Aswaja Nusantara Muhammad Mustafied Senin (7/5).

Berdirinya Mlangi bersamaan dengan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dari catatan sejarah pada era 1760. Ditandai juga dengan berdirinya Masjid Pathok Negoro, yang gaya arsitekturnya memiliki kemiripan dengan bangunan keraton. Di samping masjid terdapat kompleks pemakaman. Di pemakaman itulah bersemayam Kiai Nur Iman.

“Sampai saat ini masih banyak yang berziarah ke makam Kiai Nur Iman. Masjid juga tidak pernah sepi karena warga selalu beribadah di sini,” jelas Mustafied yang juga putra ketua takmir Masjid Pathok Negoro Mlangi.

Dulu syiar Islam terpusat di satu titik Masjid Pathok Negoro. Seiring berjalannya waktu, perkembangan ajaran Islam terus bertumbuh hingga saat ini berdiri 17 pondok pesantren di Mlangi. Karena menjadi lingkungan santri, adat-istiadat di Kampung Mlangi tak bisa dilepaskan dari budaya bernuansa islami.

“Meski tak hendak ke masjid, para lelaki biasanya memakai sarung, baju muslim, dan peci. Sedangkan kaum perempuan berdandan sesuai tuntunan norma agama,” ucapnya.

Di sekitar Masjid Pathok Negoro puluhan santri hilir mudik setiap detiknya. Ada yang sekadar jalan-jalan. Beberapa santri lainnya berdiam diri di rumah atau pondok pesantren tempat mereka belajar.

Suasana syahdu terasa begitu isyarat keagungan Sang Pencipta berkumandang. Begitu terdengar suara azan, ratusan santri segera memadati Masjid Pathok Negoro tanpa dikomando.

Meski berkutat dengan nuansa islami, Mustafied menegaskan, Mlangi sangat menjunjung tinggi toleransi. Termasuk dalam hal adat berpakaian. Pakaian sopan, rapi, dan menutup aurat bukan berarti menunjukkan warga Mlangi anti dengan orang luar. “Perempuan tidak berhijab pun tidak apa-apa datang kemari. Bahkan Mlangi juga kerap dikunjungi tokoh-tokoh lintas agama,” ungkap Mustafied.(yog/mg1)