Rona bahagia terpancar dari wajah remaja putri itu. Tak sekalipun terlihat rasa lelah di wajahnya. Meski, remaja putri yang mengenakan jilbab biru dipadu gamis berwarna hijau muda itu terlihat mondar-mandir sekadar menyalami tamu undangan. Atau sekadar berfoto bersama dengan teman-temannya.

“Terima kasih bersedia datang ke sini,” ucap Ananda Novia Puspitaningrum, remaja putri itu, usai acara Tabligh Akbar dan Pentas Seni Pondok Pesantren Modern (PPM) Muhammadiyah Boarding School (MBS) Pleret, Minggu (6/5).

Ya, agenda tahunan di PPM yang terletak di Dusun Kanggotan, Pleret itu bagi Ananda, sapaan Ananda Novia Puspitaningrum tidak seperti biasanya. Terasa istimewa. Ada launching buku antologi puisi berjudul Meniti Jejak di Permukaan Pelangi. Buku berisi 52 judul puisi ini tak lain karya Ananda.

“Nggak dibantu ayah. Ini tulisan saya sendiri,” sergah Ananda sembari melirik sang ayah yang duduk di sebelahnya, ketika Radar Jogja menyodorkan pertanyaan apakah puluhan judul puisi itu murni karyanya.

Seolah menegaskan, sang ayah, Gaib Wisnu Prasetyo menimpali bahwa mayoritas pesan puisi itu adalah pengalaman pribadi anak sulungnya. Terutama, ketika remaja putri kelahiran 5 November 2001 itu masih duduk di bangku taman kanak-kanak (TK). Seperti puisi berjudul Bertemu Sepi. Ya, isi puisi dengan tiga bait ini begitu menyayat. Menceritakan kerinduan seorang anak akan kebahagiaan di dalam rumahnya. Sekaligus protes terhadap kedua orang tuanya yang sering bertengkar.
“Dia broken home. Saya bercerai dengan ibunya ketika dia berusia enam tahun, ” kenang pria yang akrab disapa Gaib ini membocorkan masa lalu rumah tangganya.

Karena hidup adalah perjuangan berbekal kesabaran, Ananda tumbuh menjadi sosok anak dewasa nan bermental baja. Meski tak jarang Ananda kecil merasa iri dengan teman sebayanya. Contohnya ketika perayaan hari ibu. Ananda kecil tetap berusaha tegar saat melihat teman sekelasnya merayakan Hari Ibu bersama ibunya. Sementara Ananda bergandengan dengan sang ayah di sekolah. Kendati begitu, berbagai pengalaman getir ini justru mendorongnya menjelma sebagai anak kreatif. Melebihi kreativitas anak seusianya.

“Berbagai peristiwa saat masa kecil saya tulis di buku diary,” tutur putri pasangan Gaib Wisnu Prasetyo-Sitik Sugiarti ini.

Seiring waktu berjalan, begitu naik di bangku kelas V sekolah dasar (SD), Ananda tebersit menuangkan berbagai coretan saat masa kecilnya itu ke dalam tulisan. Bahkan, saat itu Ananda ingin menjadikannya sebagai sebuah buku.

“Tapi nggak berani bilang ayah. Akhirnya nggak selesai,” kenang Ananda, tampak bersemangat menceritakan episode perjalanan menulisnya.

Tekad Ananda bulat ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama MBS. Puncaknya, saat duduk di bangku kelas X sekolah menengah atas MBS. Ananda menceritakan, proses penulisan puluhan puisinya tak lebih dari sebulan. Meski kegiatan belajar mengajar di MBS nyaris tak menyisakan waktu luang.

“Sekarang sudah dapat tawaran menulis dari penerbit ternama,” ucap remaja putri yang bercita-cita menjadi jaksa ini.

Sebagai orang tua, Gaib merasa bangga. Begitu pula dengan ibu tirinya, Lina Utari Utomo. Sebab, langka ditemukan penulis anak yang mampu menerbitkan buku. Sekalipun di DIJ yang notabene kota pendidikan. Terlebih lagi, Ananda juga berkontribusi dalam penerbitan buku berjudul Jarak dan Rindu. Buku yang dirilis belum lama ini memuat puisi karya berbagai penulis.

“Dia juga tercatat sebagai anggota termuda Forum Penulis Negeri Batu Gunungkidul,” tutur pria yang berprofesi sebagai jurnalis ini.

Sementara itu, Direktur MBS Pleret Kamiludin apresiatif dengan capaian Ananda. Terlebih, berbagai fasilitas penunjang seperti perpustakaan dan laptop di MBS sangat terbatas. Karena itu, dia berharap Ananda dapat menularkan kemampuan menulisnya kepada seluruh siswi MBS.

“Santri biasanya bawa buku sendiri dari rumah. Lalu, mereka saling bertukar di pondok,” tambahnya.(zam/mg1)