GUNUNGKIDUL –Seabrek pekerjaan menanti Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul. Terutama, terkait peningkatan pelayanan kesehatan di puskesmas non-rawat inap (ranap). Sebab, fasilitas kesehatan tingkat pertama itu kekurangan dokter jaga. Akibatnya, pelayanan terhadap pasien kurang maksimal.

Anggota Komisi D DPRD Gunungkidul Maryanta melihat, ada sejumlah faktor kekurangan dokter jaga ini. Yang paling mencolok adalah jamak dokter jaga yang merangkap sebagai kepala puskesmas.

“Sehingga sering terjadi antrean pasien,” kritik Maryanta melalui sambungan telepon kemarin (6/5).

Oleh karena itu, politikus Partai Gerindra ini mendesak Dinkes segera melakukan perekrutan dokter jaga baru. Agar tak ada lagi kasus antrean panjang di puskesmas non-ranap.

“Ini persoalan serius,” ketusnya.

Sekretaris Dinkes Gunungkidul Priyanta Madya tidak menampik minimnya dokter jaga di puskesmas non-ranap. Rerata puskesmas hanya memiliki satu dokter jaga. Padahal, idealnya minimal dua dokter umum. Plus, satu dokter gigi.

“Di delapan puskesmas hanya punya satu dokter,” sebutnya.

Priyanta juga mencatat, ada empat puskesmas yang tak memiliki dokter gigi. Yaitu, Puskesmas Girisubo, Nglipar II, Patuk II, dan Gedangsari I. Namun, belakangan kekurangan dokter gigi di Puskesmas Gedangsari I teratasi. Dinkes mengisinya dengan memutasi dokter gigi di Puskesmas Patuk. Mengingat, Dinkes telah memiliki data puskesmas yang kekurangan maupun kelebihan dokter.

Terkait kekurangan tenaga medis, Priyanta menegaskan, puskesmas sebagai badan layanan umum daerah dapat merekrut dokter non-aparatur sipil Negara (ASN). Itu mengacu Peraturan Bupati No. 37/2017. Kendati begitu, proses rekrutmen hanya melalui satu pintu. Yaitu, pemkab.

“Harapan kami penambahan dokter non-ASN bisa menjawab persoalan di lapangan,” harapnya.(gun/zam/mg1)