JOGJA – Niat sekelompok masyarakat yang ingin menghapus Keistimewaan DIJ direspons Pendhapa Sang Art. Caranya, dengan mementaskan tari Bedaya Banyu neng Segara di trotoar utara Balai Kota Jogja Minggu (6/5). Tari Bedaya garapan Sang Art itu ditampilkan tujuh penari dengan riasan edan-edanan dan kaos Jogja Ora Didol.

“Tarian bedaya itu sebenarnya tarian doa ditampilkan dengan hening, kalau edan-edanan itu sebagai tolak bala, supaya tidak ada yang mengganggu,” ujar salah seorang penari Maria Fransisca.

Tari Bedaya Banyu neng Segara tersebut sengaja ditampilkan di ruang publik untuk mengingatkan kembali jika Jogja itu Istimewa. Itu sekaligus untuk mengajak para pendatang untuk menghormati kultur budaya di DIJ. “Sebagai perantau yang belajar dan tinggal di Jogja juga harus menghormati adat istiadat di Jogja,” ujar Sisca yang asal Kediri, Jawa Timur itu.

Sisca menambahkan, tari Bedaya pada pakemnya memang hanya ditampilkan di Keraton saja. Namun, Pendhapa Sang Art yang beralamat di Ledok Timoho itu ingin membawa keluar. Dengan tampilan yang berbeda. Termasuk untuk lokasinya. Bisa dipentaskan di mana saja, seperti di trotoar Balai Kota Jogja. “Tidak harus di panggung megah tapi juga bisa di kampus, kantor pemerintahan atau ruang publik,” ungkapnya.

Untuk tari Bedaya Banyu neng Segara, mahasiswa Uiversitas Atma Jaya Jogja itu mengatakan sebagai gambaran air yang merupakan unsur penting dalam kehidupan. Di mana akhirnya akan mengalir ke segara atau samudera. Semangat itu yang dinilainya sama dengan gerakan Jogja Ora Didol.

“Sikap dan perilaku njawani ini sebagai semangat untuk terus merawat Jogja yang istimewa,” tambahnya. (pra/zam/mg1)