AGENDA WISATA: Kirab gunungan Nyadran Agung di Alun-Alun Wates, Kulonprogo, Sabtu (5/5). (HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA)

Antropolog budaya Universitas Gadjah Mada Pujo Semedi Hargo melihat tradisi nyadran memiliki fungsi sosial sangat dalam. Masyarakat berkumpul untuk memperingati

dan menghormati nenek moyang.

“Pada dasarnya orang itu senang pesta, senang kumpul, dan bertemu sedulur. Istilah Jawa-nya ngumpulke balung pisah,” jelasnya mengenai nyadran yang masih eksis keberadaannya di tengah masyarakat.

“Dalam catatan sejarah, nyadran ada di kitab Negarakertagama,” lanjut Pujo.

DHAHAR KEMBUL: Warga Dusun Saren, Wedomartani, Ngemplak, Sleman siap makan bersama usai ziarah kubur. (JAUH HARI WAWAN S/RADAR JOGJA)

Di zaman Majapahit, upacara Sradha atas perintah Sri Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi. Digelar untuk memperingati 12 tahun wafatnya sang ibu. Upacara tersebut digelar di bulan Badrapada, Tahun Saka 1284 atau sekitar 1361 Masehi. Upacara digelar besar-besaran dengan melibatkan pejabat-pejabat daerah dan para pangeran yang harus memberi sumbangan makanan. “Upacara Sradha inilah yang kemudian kita kenal dengan Sadranan atau Nyadran,” katanya. Nyadran menjadi upacara yang digelar raja sampai rakyat jelata. Tradisi itu dari raja disebarkan ke priyayi, lalu ke rakyat jelata. Diwariskan turun-temurun hingga survive sampai hari ini. Karena tradisi itu bersifat ritualistik kerajaan, kata Pujo, makanya selalu dijadikan model bagi rakyat.

Pujo juga melihat adanya kepentingan politik-ekonomi yang kerap muncul dalam acara nyadran. Dengan menunjukkan kalau suatu kelompok adalah keturunan seseorang yang dianggap penting pada masa itu. “Saling bertemu, ternyata si ini keturunannya itu, klan nya ini, dan seterusnya. Lalu biasanya menjadi klaim secara historis untuk berkuasa,” paparnya.

Menurut Pujo, secara historis nyadran bukanlah ajaran Islam. Toh kenyataannya nyadran juga dilakukan umat agama lain.Meski pelaksanaannya selalu digelar menjelang Ramadan. Secara ideologis juga bukan ajaran Islam. “Dalam Islam orang yang sudah meninggal berarti selesai. Tidak ada peringatan apa pun,” tuturnya.

Jika dikatakan sebagai tradisi Hindu, menurut Pujo, usia nyadran justru lebih tua. “Kemungkinan tradisi memperingati atau menghormati arwah orang mati ini sudah ada jauh sebelum zaman Majapahit, cuma tidak tercatat,” katanya.

Ada kepercayaan secara simbolis bahwa status orang meninggal yang dianggap sudah tidak di ruang hidup manusia. Tetapi juga belum sampai di alam akhirat. Sehingga diadakan upacara untuk mengantar sang arwah ke tempat berikutnya. “Misalnya nyewu, biasanya ditandai dengan kijing (nisan, Red). Ini sebagai tanda memberi rumah baru,” jelas Pujo. Di masa sekarang ritual “mengantar arwah” itu sekadar menjadi peringatan.

Kehadiran agama-agama di Indonesia tidak lantas menghapuskan tradisi ini sebagai kepercayaan lama yang tidak hilang. Karena dianggap cocok dengan keperluan masyarakat. “Wong Jawa senengane gayeng dan struktur bawah sadar manusia masih berfikir secara simbolik,” ujar mantan dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Sementara itu, perserikatan Muhammadiyah memiliki pandangan tersendiri terhadap tradisi nyadran. Wakil Ketua PimpinanWilayah Muhammadiyah DIJ Azman Latif menyebut tidak mengenal nyadran. Dalam persirakatan Muhammadiyah, budaya nyadran pada intinya merupakan ziarah kubur yang bisa dilakukan kapan saja. “Silakan di hari apa pun, bulan apa saja, itu tetap baik,” katanya.

Pada prinsipnya, lanjut Azman, kegiatan ziarah kubur, menurut pandangan Islam, cukup baik.

“Ziarah itu sunah. Tetapi tidak harus dilaksanakan saat Ruwah atau Syakban. Kapan pun ziarah kubur tetap dapat pahala karena itu sebagai pengingat besok kita akan mati,” papar ketua takmir Masjid Gede Kauman ini.

Azman menambahkan, tradisi jelang Ramadan bagi perserikatan Muhammadiyah diutamakan dengan kerja bakti memberishkan tempat ibadah, merancang berbagai kajian selama bulan puasa, hingga menyiapkan imam dan khatib yang terbaik.

Dengan begitu, Ramadan diharapkan bisa menjadi bulan pendidikan keislaman bagi masyarakat. Azman mengibaratkan seperti nge-charge baterai. Supaya setelah Ramadan keimanan setiap muslim kembali penuh. (cr3/bhn/yog/mg1)