“Ini yang namanya mikul dhuwur mendhem jero. Tradisi ini harus dijaga dan dilestarikan oleh generasi penerus. Bukan bicara tentang kleniknya tapi sisi keluhuran budaya dan maknanya,” ujar budayawan Djaduk Ferianto tentang nyadran.

Di mata Djaduk, nyadran bukanlah budaya yang ketinggalan zaman. Tapi justru wajib dilestarikan, bukan sekadar sebagai tradisi, melainkan bermakna kekeluargaan yang mendalam. Sebab, budaya peninggalan nenek moyang bisa lestari hanya jika ada garis penurun. Peran para orang tua untuk mengenalkan nyadran kepada anak-anak mereka.

“Budaya nyadaran masih sangat relevan dengan era kekinian. Anak muda diajak mengenak siapa eyangnya, siapa buyutnya agar tahu urut-urutannya. Menguatkan kekerabatan karena biasanya nyadran itu bisa bertemu saudara jauh,” kata pria yang masih memiliki garis keturunan Keraton Jogjakarta ini.

Putra almarhum seniman Bagong Kussudiarja ini mengakui, tidak semua generasi muda paham budaya nyadran. Namun, lewat nyadran mereka bisa memperoleh edukasi penting. Setidaknya untuk mengetahui silsilah leluhur.

Mengenal leluhur, kata Djaduk, tidak hanya berbicara fisik. Pengenalan ini bisa mengangkat sosok dan peran leluhur di masa lalu. Menceritakan berbagai semangat dan perjuangan para leluhur. Kisah mereka bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda.

Belum lama ini Djaduk juga melakukan nyadran bersama keluarganya. Dia berziarah di makam Kuncen hingga makam Kotagede. Di tempat itulah keluarga dan para leluhurnya bersemayam. (dwi/yog/mg1)