JOGJA – Sebanyak 700 pesilat dari perguruan Silat Tauhid Indonesia (STI) berkumpul dalam latihan gabungan di Stadion Kridosono, Minggu (6/5). Dalam latihan gabungan (latgab) ini, para pesilat mempertunjukkan kebolehannya. Mulai dari mematahkan batangan besi, buis beton hingga menaiki tangga golok.

Selain itu juga diperagakan latihan dengan tenaga dalam. Salah seorang pesilat coba diserang dengan samurai. Hanya dengan mengatur pernapasan dan gerakan tangan, penyerang dengan samurai itu jatuh berguling-guling. Atraksi tersebut bagian dari HUT-26 STI.

Ketua Dewan Pendiri Silat Tauhid Indonesia Andri Rifai Ibnu Gambang mengatakan, ilmu silat tersebut merupakan ciptaan salah satu Wali Songo yakni Sunan Bonang. “Waktu itu beliau tahu orang Jawa senang kedigdayaan. Makanya dia menciptakan gerakan-gerakan silat tapi disisipi nilai keislaman,” ungkapnya.

Berbeda dengan beberapa perguruan silat lainnya, STI tidak memilih jalur olahraga prestasi. Namun lebih pada jalur tenaga dalam. Sehingga ilmu yang diajarkan lebih banyak gerakan silat yang memfokuskan pada nilai keislaman dan tenaga dalam. Maka tak jarang bagi para pendekar memiliki kemampuan kanuragan semacam kebal terhadap senjata tajam.

Berdiri pada 1989 dari sebuah majelis dzikir dengan berlanjut latihan perdana di Pekalongan medio 1992, Gambang mengklaim saat ini ada sekitar 175 ribu anggota STI yang tersebar di seluruh nusantara. Dari jumlah itu, 174 di antaranya memiliki kemampuan untuk menyebarkan ilmu Silat Tauhid ini kepada khalayak umum.

Sebagai bagian dari kesenian dan bela diri asli Indonesia, maka setiap pengikut STI wajib menjaga keutuhan NKRI. “Ketika ada ancaman disintegrasi bangsa sampai juga ada ancaman terhadap keutuhan Keraton Jogja, sampai ada yang ingin membunuh Sultan, maka kami menjadi orang terdepan yang akan menggagalkannya. Kami anti-gerakan radikal,” tegasnya. (riz/laz/mg1)