Di sebagian wilayah prosesi nyadran dimeriahkan dengan arak-arakan gunungan. Ada gunungan hasil bumi, apem, maupun aneka jenis makanan tradisional. Seperti Nyadran Agung yang digelar di Alun-Alun Wates, Sabtu (5/5). Ini bahkan menjadi agenda rutin tahunan oleh Dinas Kebudayaan Kulonprogo. tak kurang 25 gunungan diusung untuk diperebutkan ribuan warga. Itulah cara Pemkab Kulonprogo mempererat silaturahmi masyarakat.

“Bukan hanya warga kami yang terlibat. Saudara-sadara mereka yang di perantauan juga pulang dan ikut kumpul bersama,” ujar Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo.

Ke-25 gunungan itu merupakan sumbangan dari 12 kecamatan, pemerintah kabupaten, serta badan usaha milik negara/daerah. Gunungan dikirab mulai kantor DPRD Kulonprogo. Dikawal bregada prajurit.

“Nyadran Agung telah menjadi salah satu wahana wisata menarik di Kulonprogo,” klaim Hasto.

Ribuan orang bukan hanya menyaksikan acara itu. Sebagian besar ikut memperebutkan isi gunungan. Tak pelak, ketika doa belum selesai dituntaskan, isi gunungan pun ludes lebih dulu.

“Walau harus berdesak-desakan, berebut saya akhirnya dapat, sayur-syuran. Gunungan hasil bumi ini membawa berkah,” kata Poinem, salah seorang warga Wates.

Tradisi nyadran di Kota Magelang dimeriahkan dengan garebeg tahu di Kampung Trunan, Tidar Selatan, Magelang Selatan. Gunungan tahu diarak menuju puncak Gunung Tidar, lalu menjadi bancakan masyarakat setempat. Muh Haryadi, salah seorang panitia, menyebutkan, budaya nyadran sengaja dibumbui unsur pariwisat sejak empat tahun terakhir. “Supaya sadranan semakin gereget,” ujarnya.

Pemusatan acara di puncak Gunung Tidar tak lain juga untuk mendoakan arwah leluhur yang dimakamkan di tempat itu. Seperti Syeh Subakir, Kiai Sepanjang, Kiai Nyi Truno, dan Eyang Bodronoyo.

Modifikasi nyadran dengan garebeg tahu merupakan wujud penyesuaian dengan lingkungan. Sebagaimana diketahui, Kampung Trunan dikenal sebagai sentral produksi tahu dan tempe.

“Tapi yang dominan adalah tahunya. Tahu Trunan dikenal alami sampai luar kota, bahkan luat propinsi,” ujarnya.

Selain arak-arakan gunungan tahu, sadranan dimeriahkan pertunjukan tari yang melambangkan kebersamaan masyarakat Trunan. Di antaranya, tari jurit Jatayu, kubrosiswo, jurit Srikandi, dan jurit lapang. Tarian juga menggambarkan masyarakat Trunan sangat berpegang teguh pada Pancasila.

“Arak-arakan melibatkan 45 penari. Konsep gerakannya dari masyarakat sendiri yang kami selaraskan,” ungkap Ketua Jurusan Prodi Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja, Hadawiyah Endah Utami. (tom/dem/yog/mg1)