Sebelum berkumpul di pemakaman umum ada kebiasaan masyarakat mengumpulkan makanan. Biasanya berupa nasi atau tumpeng, lauk daging, telur, tempe, tahu, dan rempeyek. Uba rampe itu lantas dikumpulkan di makam sebelum prosesi nyadran. Setelah semuanya berkumpul, dilanjutkan kenduri bersama, lalu berdoa dan bersih-bersih di makam leluhur masing-masing warga. Sebagian ada yang membawa bunga untuk ditaburkan di atas pusara leluhur.

Tradisi ini bukan hanya menjadi kebiasaan sebagian umat muslim, meski dalam pelaksanaannya selalu disisipi doa-doa ajaran Islam. Bukan pula hanya tradisi masyarakat pedesaan. Tak sedikit warga perkotaan juga melaksanakan nyadran. Bahkan, seperti ketika Lebaran, tak sedikit warga ibu kota pulang kampung untuk mengikuti nyadran di kampung halaman. Di beberapa daerah ada pula yang dibumbui dengan ritual budaya, seperti apeman.

Salah satu pemakaman yang menjadi lokasi nyadran adalah Makam Islam Karangkajen, Kota Jogja. Masyarakat setempat menyebutnya dengan istilah besik. Ahli waris membersihkan makam leluhur. Tradisi besik di Makam Islam Karangkajen biasa digelar setiap 15 Ruwah, yang tahun ini tepat Selasa (1/5). Sedikit berbeda dengan tradisi di pedesaan, menu dhahar kembul (makan bersama, Red) bukan berupa nasi tumpeng, tapi makanan dalam kardus.

“Tradisi ini selain untuk mengumpulkan ahli waris, juga mengingatkan mereka akan keluarga yang sudah meninggal,” ungkap juru kunci Makam Islam Karangkajen Nur Syamhudi.

Momentum itu sekaligus menjadi sarana para ahli waris mengenalkan anak dan cucu mereka terhadap leluhur. Dijelaskan pula tentang silsilah keluarga. “Untuk mengingatkan pula bahwa kita semua nantinya bakal mati juga,” ungkap Syamhudi yang juga abdi dalem Keraton Jogja itu.

Satu hal yang menjadikan Makam Islam Karangkajen tampak istimewa karena keberadaan pusara pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dan pendiri Himpunan Mahasiswa Islam Lafran Pane. Yang dimakamkan di pemakaman itu mayoritas juga warga Muhammadiyah. Di pemakaman ini ada aturan untuk tidak menyalakan kemenyan dan tabor bunga. Di pemakaman itu juga tak terdapat nisan. Menurut Syamhudi, pada 2014 lalu ada kesepakatan semua ahli waris yang dimakamkan di tempat itu untuk menghilangkan semua batu nisan. Hal itu demi menghindarkan sirik.

Tempat pemakaman umum yang juga menjadi pusat pelaksanaan nyadran adalah Makam Sewu di Desa Wijirejo, Pandak, Bantul. Puncak acara dihelat hari ini, Senin (7/5), dengan kegiatan arak-arakan jodhang dan kenduri. Adapun rangkaian nyadran diawali kemarin pagi dengan semaan Alquran, doa tahlil, dan pengajian.

Berbeda dengan tradisi nyadran pada umumnya, warga yang berziarah di Makam Sewu berasal dari berbagai daerah. Bukan hanya ahli waris warga setempat yang dimakamkan di tempat itu. Itu lantaran keberadaan makam Panembahan Bodho, sosok spiritual keturunan Kerajaan Majapahit yang juga dikenal sebagai Raden Trenggono. Dia adalah cicit Prabu Brawijaya, raja terbesar Majapahit.

“Jadi bukan hanya Ruwah. Hampir tiap hari selalu ada orang datang ziarah dari mana-mana,” ungkap Wahana, juru kunci Makam Sewu.

Tradisi nyadran juga digelar warga Dusun Saren, Wedomartani, Ngemplak, Sleman. Bedanya, tradisi nyadran tidak dipusatkan di pemakaman umum, melainkan di Pasar Saren.

Hadi Pandriyo, tokoh masyarakat setempat, menuturkan, dipilihnya pasar sebagai lokasi nyadran karena sejak zaman dulu menjadi titik kumpul masyarakat. Bukan hanya berdagang, melainkan juga interaksi sosial dan pertukaran budaya. “Sejak zaman penjajahan dulu sudah ada tradisi ini. Dulu dilaksanakan sambil sembunyi-sembunyi,” ungkap Hadi.

Doa-doa yang dipanjatkan warga tak hanya untuk keluarga yang sudah meninggal. Tapi lebih kepada tiga pendiri dusun setempat, yang salah satunya adalah Kiai Sapar. “Dua lainnya dari kerajaan Majapahit dan Mataram,” jelas kepala Dusun Saren itu.

Sementara lewat uba rampe berupa ketan, apem, dan kolak, serta ayam ingkung yang diletakkan di atas jodhang menjadi sarana syukur kepada Tuhan. Melalui ajang itu, lanjut Hadi, warga diharapkan selalu bersyukur atas nikmat Tuhan, guyub rukun, serta terus menjaga tradisi warisan nenek moyang.(pra/cr6/cr4/yog/mg1)