BANTUL – Human immunodeficiency virus (HIV) termasuk salah satu virus mematikan. Tidak sedikit penderita retrovirus yang menyerang sistem kekebalan tubuh ini meninggal dunia. Kendati begitu, nyaris seluruh penderita HIV yang meninggal dunia ini telah sampai fase acquired immunodeficiency syndrom (AIDS). Alias, stadium akhir dari infeksi HIV. Bukan fase awal terinfeksi.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul dr Sri Wahyu Joko Santoso mengungkapkan, perjalanan fase awal terinfeksi hingga stadium akhir cukup lama. Sekitar lima hingga sepuluh tahun. Fase perjalanan ini disebut dengan window period.

“Tahapannya dimulai fase terinfeksi lalu inkubasi atau berkembang biak, kemudian sampai muncul AIDS,” jelas Okky, sapaannya di kantornya Jumat (4/5).

Melihat panjangnya perjalanan fase ini, Oky menekankan, perkembangbiakkan HIV bisa dikendalikan. Dengan kata lain, penderita HIV bisa terhindar dari kematian. Caranya adalah pasien yang mengalami berbagai gejala HIV memeriksakan diri ke dokter. Agar dokter dapat memformulasikan resep obat yang harus dikonsumsi penderita. Sebab, obat antiretroviral yang diberikan tidak sembarangan. Dokter memperhatikan jumlah virus (viral load) di dalam tubuh.

“Harus dikonsumsi sesuai aturan. Setiap hari selama seumur hidup. Tidak boleh absen minum obat meski sehari sekalipun,” ingat Okky, menyebut bahwa absen mengonsumsi obat dapat berakibat lebih fatal. Seperti fase AIDS datang lebih cepat.

Apa gejala penderita HIV? Menurutnya, gejala awal terinfeksi HIV tidak bisa dideteksi melalui kasat mata. Kondisi penderita persis seperti orang sehat. Namun, penderita biasanya mengalami berbagai gejala. Seperti diare kronis hingga sebulan dan penurunan berat badan (BB) cukup signifikan. Biasanya, penurunan BB lima hingga sepuluh persen dalam sebulan. Gejala lain adalah dehidrasi, terkena tuberculosis, dan kekurangan kalori.

“Sehingga loyo,” lanjutnya.

Gejala fase AIDS juga hampir sama. Hanya, kadarnya lebih tinggi. Lantaran virus telah berkembang biak. Okky mencontohkan, penurunan BB hingga 20 persen, dehidrasi, dan kekurangan kalori.

“Serta muncul jamur di mulut,” urainya.

Dalam kesempatan itu, Okky menyebutkan, jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Bantul cukup banyak. Pada 2017, misalnya, kasus baru mencapai 48. Kendati begitu, tingginya angka ini tak berarti menunjukkan penularan HIV/AIDS. Sebab, sistem pencatatan laporan nasional HIV/AIDS berdasar KTP. Bukan tempatnya.

“Hampir 80 persen penderita AIDS ditemukan di luar Bantul. Seperti di Sardjito dan Puskesmas di Kota Jogja,” ungkap Okky menyebutkan jumlah penderita HIV/AIDS sejak 1993 hingga 2017 di Bumi Projotamansari sebanyak 883 orang.

Okky tak menampik HIV tak dapat disembuhkan. Sebab, virus apapun termasuk HIV tak bisa mati. Kendati begitu, Okky memastikan, janin yang dikandung penderita HIV belum tentu ikut terinfeksi. Tapi dengan syarat si ibu harus mengonsumi obat yang diberikan dokter secara teratur.

“Kalau tidak, ya, dipastikan tertular,” tandasnya.

Penularan HIV berbeda dengan penyakit lain. Okky mengungkapkan, media penularannya melalui cairan tubuh. Seperti darah, sperma, cairan vagina, dan air susu ibu. Karena itu, Okky menyarankan, bagi orang yang memiliki faktor risiko tertular segera memeriksakan diri. Contohnya, laki-laki atau perempuan yang sering berganti pasangan. Juga, pengguna narkoba dengan jarum suntik. Di mana jarum suntiknya dipakai bersama. Toh, seluruh puskesmas se-Bantul dapat memeriksa HIV. Begitu pula dengan tiga rumah sakit. Seperti RSUD Panembahan Senopati, RSPAU Harjolukito dan RSP Respira.

“Jangan sampai terlambat pada fase AIDS,” ingatnya.

Guna mengantisipasi penularan HIV/AIDS, menurut Okky, Dinkes rutin melakukan berbagai upaya. Terutama promotif dan preventif. Promotif, misalnya. Dinkes gencar memberikan sosialisasi kepada remaja dan usia produktif. Juga, kepada seluruh elemen masyarakat. Sedangkan upaya preventif menyasar ke berbagai populasi berisiko. Seperti kawasan prostitusi.

“Kami bekerja sama dengan KPA, dan LSM. Seperti Vesta dan Victory Plus,” tambahnya.(zam/mg1)