JOGJA – Konflik berkepanjangan antara Romahurmuzy dan Djan Faridz akhirnya membuat sejumlah tokoh dan massa akar rumput Partai Persatuan Pembangunan (PP) geram. Saking geramnya, mereka Jumat (4/5) mendeklarasikan PPP Khittah di kantor DPW PPP DIJ.

Sejumlah tokoh dari kedua kubu hadir sekaligus didaulat sebagai pengurus dalam deklarasi yang digelar di Jalan Tentara Rakyat Mataram tersebut. Seperti Wakil Ketua Umum DPP PPP dari kubu Romahurmuzy, Tamam Achda didaulat sebagai ketua umum. Sementara, Syukri Fadholi yang selama ini condong ke kubu Djan Faridz didapuk sebagai wakil ketua.

Syukri menegaskan, PPP Khittah, bukanlah partai politik baru. Keberadaan PPP Khittah merupakan bagian yang sah dari PPP yang didirikan oleh para pemimpin Islam dari empat partai, yakni NU, Pemusi, PSII dan Perti.

“Kami ingin mengembalikan PPP ke dasar ideologi sebagai partai Islam. Bukan partai yang berasas pada pragmatisme dan kepentingan penguasa,” kata Syukri di hadapan ratusan massa PPP yang memadati kantor DPW PPP.

PPP Khittah, menurutnya, sebagai sebuah gerakan moral dan gerakan untuk mengoreksi penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di PPP. Baik di kubu Romahamurmuziy maupun Djan Faridz.

“Kedua kubu ini harus melakukan taubatan nasuha dan kembali ke jalan yang benar,” kritiknya.

Keberadaan PPP Khittah, tegasnya, ingin mengembalikan partai sebagai pembawa aspirasi umat Islam, membentengi moral agar NKRI dan tidak sekuler. Juga untuk membangun kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Kenaikan BBM, pembubaran ormas Islam serta impor tenaga kerja asing (TKA) dinilai sebagai kebijakan yang tidak lagi berpihak kepada rakyat.

Sementara itu, Tamam menjelaskan, gerakan PPP Khittah bertujuan untuk menyadarkan kedua pimpinan yang saat ini saling bersebrangan. “Kami ingin keduanya islah, dan membangun kembali PPP berdasarkan nilai kebenaran,” jelasnya. (bhn/zam/mg1)