JOGJA – Orang tua yang putera-puterinya tahun ini ingin menyekolahkan di sekolah negeri di Kota Jogja, harus mulai berhitung jarak RW-nya dengan sekolah. Pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP maupun SMA dan SMK 2018-2019, resmi menerapkan sistem zonasi.

Untuk tingkat SMA, zonasi yang digunakan terbagi dalam tiga zonaberdasarkan pemetaan dengan mempertimbangkan jarak. Untuk penerimaan calon peserta didik jalur zonasi untuk SMK, diatur berdasarkan zonasi yang terbagi dalam zona 1 dalam wilayah DIJ dan zona 2 untuk luar DIJ.

Hal itu sesuai petunjuk teknis (Juknis) PPDB Online, yang ditandatagani Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIJ Kadarmanta Baskara Aji pada 2 Mei lalu. Juknis ini merupakan penjelasan dari Pergub DIJ Nomor 7 Tahun 2018 tentang Pedoman Penerimaan Peserta Didik Baru di Sekolah.

Kuota untuk zonasi SMAN dan SMKN yang sudah ditetapkan, tiap sekolah mencapai 90 persen. Sisannya masing-masinglimapersen kuota diperuntukkan untuk jalur prestasi dan jalur alasan khusus.

Sedang untuk PPDB online SMP di Kota Jogja, hingga Jumat (4/5) belum dikeluarkan Perwal yang mengaturnya. Tapi Kepala Bidang Pendidik Tenaga Kependidikan Data dan Informasi Dinas Pendidikan Kota Jogja Samiyo mengaku sudah menyiapkan juknisnya. Salah satunya mengatur terkait kuota zonasi. “Kami menyiapkan kuota khusus yang didasarkan pada nilai USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional),” terangnya.

Kuota khusus itu, yaitu sebanyak 15 persen dari total kuota tiap SMPN yang diperhitungkan berdasarkan nilai USBN maupun prestasi juara. Hanya bagi juara Olimpiade Sains Nasional, Olimpiade Olahraga Siswa Nasional, dan Festival Lomba Seni Siswa Nasional. “Untuk siswa dalam kotaminimal juara tingkatkota, untuk luarkotaminimal juara tingkat provinsi,” ungkapnya.

Dengan adanya kuota prestasi 15 persen itu, untuk kouta zonasi berkurang menjadi 75 persen dan sisanya lima persen untuk siswa luar daerah dan lima persen untuk jalur khusus. Kuota prestasi ini juga untuk menyiasasti wilayah yang tidak terdapat SMPN. “Hak siswa disana juga harus difasilitasi agar memiliki hak yang sama dengan yang berdasarkan jarak,” ujar Samiyo.

Diakui, dari 16 SMPN di Kota Jogja persebarannya belum merata. Sebelas SMPN ada di wilayah Jogja utara danlimadi Jogja selatan. Bahkan di Jogja timur tidak ada SMPN. Di Kecamatan Umbulharjo yang memilik wilayah terluas dan terpadat di Kota Jogja, hanya terdapatSMPN 10.

Samiyo menambahkan, pada jarak zonasi seleksi akan melihat jarak dari rumah siswa berdasarkan jarak basis RW ke SMP pilihan. Jika dalam satu RW ada lebih dari satu calon siswa mendaftar di SMP yang sama, maka akan bersaing dari segi nilai USBN.

Apabila melihat nilai calon siswa itu masih sama, maka akan diseleksi berdasarkanwaktu pendaftaran ke sekolah. “Kalau jaraknya, nilainya sama, dilihat siapa yang mendaftar lebih dulu,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Kota Jogja Ariswan menilai mekanisme zonasi berdasarkan jarak ini memiliki nilai positif yaitu pemerataan akses pendidikan ke seluruh siswa tanpa dibedakan dengan nilai. “Selama inikandasarnya nilai, sehingga ada dikotomi SMP favorit. Dengan zonasi ini semua jadi favorit,” katanya.

Meski diakui dengan zonasi ini akan mencampur siswa dengan kemampuan penerimaan pendidikan lebih, dengan yang biasa saja. Untuk itu, dosen Fisika MIPA UNY ini meminta dalam pembelajarannya nanti berdasarkanstudentlearningcenter. “Siswa yang pintar bisa jadi tentor rekannya sebaya,” jelasnya. (pra/laz/mg1)