dr. Nur Muhammad Artha MSc Mkes SpA (RADAR JOGJA FILE)

Infeksi cacing usus yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted helminthiasis) merupakan masalah dunia terutama di negara yang sedang berkembang. Lebih dari 1,5 miliar orang atau 24% dari populasi dunia, terinfeksi cacing tanah di seluruh dunia. Infeksi tersebar luas di daerah tropis dan subtropis, dengan angka terbesar terjadi di sub-Sahara Afrika, Amerika, Cina dan Asia Timur. Lebih dari 270 juta anak usia prasekolah dan lebih dari 600 juta anak usia sekolah tinggal di daerah, dimana parasit cacing ini secara intensif ditularkan, sehingga membutuhkan pengobatan dan intervensi pencegahan. Prevalensi pada anak usia sekolah dasar di Indonesia antara 60%-80%. Prevalensi kecacingan dilaporkan mulai 40-70% pada 80-an hingga 90-an. Namun, perkiraan prevalensi kecacingan menurun pada tahun 2005: Ascaris (15,2%), Trichuris (12,9%), dan cacing tambang (8,4%). Diperkirakan total prevalensi kecacingan akan menjadi 30,5% [85]. E survey yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan di sekolah dasar yang terletak di 33 provinsi di Indonesia menunjukkan prevalensi Kecacingan adalah 31,8%. Kecacingan termasuk dalam 11 dari 20 jenis penyakit terabaikan atau Neglected Tropical Disease (NTD) yang terdapat di Indonesia, selain Filariasis, Schistosomiasis, Dengue Haemorrhagic Fever (DHF), Rabies, Frambusia, Lepra, Japanese B. Encephalitis, Cysticercosis, Fasciolopsis, dan Anthrax. Istilah diabaikan dalam NTD mengacu pada fakta bahwa penyakit tropis ini tidak dianggap sebagai penyakit penting. NTD umumnya menyebar di antara masyarakat miskin dan terpinggirkan yang memiliki sumber daya terbatas. NTD menghasilkan deformitas dan cacat jangka panjang, menurunkan produktivitas dan status ekonomi, dan juga menyebabkan banyak konsekuensi sosial dan stigmatisasi. Empat spesies utama cacing usus yang merupakan persoalan kesehatan masyarakat di Indonesia adalah Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Necator americanus dan Ancylostoma duodenale. Injeksi cacing pada seorang anak dapat ditemukan secara tunggal maupun campuran,dan dapat menyebabkan malnutrisi, anemia, menurunnya kesehatan jasmani dan menurunkan selera makan sehingga dapat menyebabkan gang- guan pertumbuhan,dan dapat menyebabkan penurunan kemampuan kognitif.

Infeksi cacing gelang disebut juga askariasis. Penyakit ini ditularkan melalui telur matang yang tertelan. Dalam usus halus telur akan menetas, dan keluar larva yang dapat menembus usus, mengikuti aliran darah menuju jantung kanan lalu ke paru. Larva merangsang laring sehingga terjadi batuk dan dapat masuk ke saluran cerna melalui kerongkongan. Selanjutnya larva akan menjadi cacing dewasa di dalam usus halus. Gejala infeksi cacing gelang pada umumnya yaitu rasa tidak enak pada perut (gangguan lambung); kejang perut, diselingi diare; kehilangan berat badan; dan demam.

Adanya Ascaris lumbricoides dalam usus halus dapat menyebabkan kelainan mukosa usus, berupa proses peradangan pada dinding usus, pelebaran dan memendeknya villi, bertambah panjangnya kripta, menurunnya rasio villus kripta dan infiltrasi sel bulat ke lamina propria, yang berakibat pada gangguan absorpsi makanan. Sebagian kelainan ini dapat kembali normal bila cacing dikeluarkan. Infeksi cacing tambang disebut juga nekatoriasis. Infeksi cacing tambang pada manusia disebabkan oleh Necator americanus dan Ancylostoma duodenale. Penyakit ini menular melalui larva cacing yang terdapat di tanah yang menembus kulit (biasanya di antara jari kaki). Cacing ini akan berpindah ke paru kemudian ke tenggorokan dan akan tertelan masuk ke saluran cerna. Manusia merupakan tuan rumah utama infeksi cacing tambang. Cacing dewasa hidup di sepertiga bagian atas usus halus, melekat pada mukosa usus dan dapat bertahan selama 7 tahun atau lebih. Cacing tambang menghisap lebih banyak darah bila dibandingkan dengan Trichuris trichiura. Seekor Ancylostoma duodenale menghisap 0,16-0,34 ml darah per hari, sedangkan seekor Necator americanus menghisap 0.03 – 0,05 ml darah per hari. Luka yang diakibatkan gigitan Ancylostoma duodenale lebih berat dibandingkan kerusakan yang diakibatkan Necator americanus, selain itu diduga Ancylostoma duodenale memproduksi zat antikoagulan yang lebih kuat dibanding Necator americanus. Cacing ini menyebabkan laserasi pada kapiler villi usus halus dan MATERI RADAR JOGJA S!2 menyebabkan perdarahan lokal pada usus. Sebagian dari darah akan ditelan oleh cacing dan sebagian keluar bersama dengan tinja.

Gejala klinis yang terjadi tergantung pada derajat infeksi, makin berat infeksi manifestasi klinis yang terjadi semakin mencolok, berupa, anoreksia, mual, muntah, diare, kelelahan, sakit kepala, sesak napas, palpitasi, dispepsia, nyeri disekitar duodenum, jejenum dan ileum. Gejala infeksi cacing tambang yang umum terjadi yaitu gangguan pencernaan berupa mual, muntah, diare, dan nyeri ulu hati; pusing, nyeri kepala; lemas dan lelah; anemia; dan gatal di daerah masuknya cacing. Infeksi cacing cambuk disebut juga trikuriasis. Daur hidup cacing cambuk mirip dengan daur hidup cacing gelang, hanya saja pada cacing cambuk tidak ada siklusmasuk ke paru. Gejala infeksi cacing cambuk yang umum terjadi yaitu nyeri ulu hati, kehilangan nafsu makan, diare, anemia. Trichuris trichiura disamping menggunakan karbohidrat juga akan menyebabkan anak kehilangan darah, seekor cacing dewasa menghisap 0,005 ml darah per hari.

Efek infeksi Trichuris trichiura dapat menyebabkan menurunnya insulin like growth faktor (IGF-1) suatu hormon pertumbuhan bersifat anabolik yang berfungsi pada pertumbuhan skeletal dan hematopoesis. Secara keseluruhan infeksi Trichuris trichiura dapat menyebabkan diare kronik berat, serta hilangnya darah dalam jumlah besar. Disamping itu umur Trichuris trichiura relatif panjang (10 tahun), semua keadaan ini secara tidak langsung akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak.

Infeksi cacing ini dapat dicegah dengan cara menjaga pola perilaku hidup bersih dan sehat, yaitu dengan cara mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, menggunting kuku seminggu sekali, menggunakan alas kaki, mencuci buah dan sayur sebelum dikonsumsi dan minum obat cacing jika ada anak atau anggota keluarga yang menderita kecacingan. Selain menerapkan pola perilaku hidup bersih dan sehat, pencegahan infeksi cacing dapat dilakukan dengan pemberian obat cacing. Pemberian obat cacing dapat dimulai sejak anak usia 2 tahun. Hal ini, disebabkan karena pada anak usia 2 tahun sudah terjadi adanya kontak dengan tanah yang merupakan sumber penularan infeksi cacing. Pemberian obat cacing dapat diulang setiap 6 bulan sekali. Sedangkan, untuk daerah non endemis pemberian obat cacing harus diberikan sesuai indikasi dan sesuai pemeriksaan dokter dengan hasil pemeriksaan tinja positif ditemukan telur cacing atau cacing.

Delapan negara di Asia Tenggara menanggung beban sedang hingga tinggi. India (64%) dan Indonesia (16%) bersama-sama berkontribusi 80% dari beban Regional. Obat yang digunakan untuk kecacingan, albendazole, dan mebendazole efektif dan murah untuk mengontrol penularan dan reinfeksi kecacingan. Untuk pengobatan yang efektif, gunakan obat yang tepat dengan aturan pakai yang sesuai.