Sebuah gagasan atau niat baik pasti nanti akan diberikan jalan oleh Yang Maha Kuasa. Berawal dari semangat itulah Petrus Ridanto, salah seorang warga binaan penghuni Lapas Narkotika Kelas II A Jogjakarta menginisiasi dan membentuk sebuah gerakan yang ia beri nama “Gerakan Literasi Penjara”.

Ia resah melihat kurangnya gerakan literasi di lingkungan warga binaan. Ia juga merasakan kurangnya wadah untuk menuangkan kreativitas para warga binaan. “Dulu masih belum tersedia ruang untuk berkarya yang diberikan kepada kami,” tutur pria kelahiran tahun 1977 itu.

Selama ini pendidikan dan kegiatan di lapas hanya berkutat pada pendidikan agama saja. Padahal ketika keluar dari lapas tidak hanya pendidikan agama yang dibutuhkan, namun juga pemahaman akan literasi yang kuat.

Menurutnya, penguasaan akan literasi tidak hanya sebatas bisa membaca atau menulis saja. Lebih dari itu, kemampuan untuk mencerna maksud tulisan jauh lebih penting. “Nantinya pemahaman itu dapat membantu teman-teman beradaptasi dengan lingkungan,” ujar pria yang sudah tiga tahun berada di lapas dari lima tahun yang harus dijalaninya terkait kasus kepemilikan ganja ini.

Ketika ditemuiRadar Jogja(3/5), ia membeberkan perjuangannya dalam menggalakkan giat literasi di lapas. “Semua diawali dari bulan Desember 2017,” tutur Petrus, sapaannya.

Sejak saat itu ia mulai mengajak warga binaan yang lain untuk belajar menulis. Entah menulis puisi, menulis cerpen, bahkan menulis buku. “Tujuannya hanya sederhana, mendorong teman-teman untuk berkarya,” jelasnya.

Berbagai kegiatan lantas ia selenggarakan. Mulai dari membuat buletin, mengadakan lomba literasi secara rutin, hingga kegiatan lain yang bermanfaat untuk menambah pengetahuan serta kreativitas warga binaan. Kegiatan ini berlangsung dari Desember 2017 hingga Maret 2018.

Puncaknya adalah ia bersama kawan-kawannya mampu membuat acara “Pameran Literasi di Balik Jeruji” yang diselenggarakan 3 Mei kemarin. Kegiatan ini merupakan jawaban dari harapannya diberikan ruang yang bisa dijadikan etalase untuk menampilkan karya dari teman-temannya.

Pada akhirnya dengan kegiatan dan kampanye literasi yang secara bertahap terus ia lakukan, ia memiliki keinginan untuk menanamkan kepada seluruh warga binaan agar cinta terhadap literasi. “Bonusnya nanti kami dapat menerbitkan buku karya bersama,” harapnya.

Kecintaannya terhadap dunia literasi memang sudah tercium sejak lama. Dulu sebelum menghuni lapas ia adalah seorang penulis buku dan sangat cinta terhadap buku. “Dengan mencintai buku, maka akan muncul kemampuan untuk berimajinasi,” ungkapnya.

Pria asal Bantul ini juga punya keinginan agar karya yang kiranya ditulis dapat dipersembahkan untuk masyarakat luas. Hal itu juga untuk membuktikan bahwa warga binaan juga memiliki semangat yang tinggi dalam membaca dan berkarya.

Selain itu, ia ingin agar gerakan yang dibuat dapat dicontoh oleh masyaralat luas dan bukan hanya warga binaan lapas saja. “Nantinya setiap orang, harapannya cinta terhadap literasi,” bebernya.(laz/mg1)