PAGI itu, semangat siswa-siswi kelas VI SDN 3 Glagah dalam mengerjakan USBN begitu terlihat jelas. Meski harus mengerjakan soal ujian di sekolah sementara dengan ruangan yang sempit dan fasilitas yang terbatas, anak-anak terdampak NYIA ini tidak kehilangan asa dalam mengejar pendidikan.

Salah satunya tersimak dari Sadrina Yuniarti, 11, putri pasangan Tri Marsudi dan Ponijah, warga Pedukuhan Sidorejo, Glagah, Temon yang hingga kini masih getol menyerukan penolakan dan menjadi anggota Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulonprogo (PWPP-KP).

Sadrina adalah satu dari 27 siswa kelas VI SDN 3 Glagah yang mengikuti USBN 2018. Hari pertama, mereka mengerjakan soal mata ujian Bahasa Indonesia. “Semangat, teman-teman. Pasti bisa,” ucap Sadrina menyertai bel tanda masuk ujian.

Sadrina mengaku beruntung karena mendapat dukungan penuh dari kedua orangtuanya. Dia juga mengaku tidak pernah merasa terganggu dengan kondisi rumah berikut sikap kedua orang tuanya yang hingga saat ini masih kukuh menolak proyek pembangunan bandara.

“Orang tua meminta saya untuk tetap fokus belajar dan melarang saya untuk ikut-ikutan dalam persoalan bandara (menolak bandara). Saya juga tidak terganggu konsentrasinya dan masih bisa belajar. Insyaallah semuanya lancar,” ucapnya.

Sikap menolak dan berseberangan dengan pemerintah untuk bertahan memaksa keluarga Sadrina tinggal di dalam pagar bandara. Hingga saat ini, mereka masih menempati rumah mereka yang berada di dalam areal Izin Penetapan Lokasi (IPL) NYIA.

Kendati tersisolir di dalam pagar dan minim penerangan karena sudah tidak ada jaringan listrik yang terpasang dan hanya mengandalkan mesin genset. Lengkap dengan segala keterbatasannya, tidak membuat Sadrina kehilangan semangat belajar. Dia ingin sekali menuntaskan pendidikan dasar.

Dukungan kedua orang tuanya juga penuh. Jika di hari biasa Sadirna tinggal dan belajar di rumahnya di dalam area pagar bandara. Khusus saat ujian kali ini, Sadrina sengaja dititipkan oleh kedua orang tuanya di rumah kakek dan neneknya di kompleks hunian relokasi Glagah dengan alasan agar mendapatkan ketenangan batin serta bisa berkonsentrasi pada ujian yang akan dijalaninya.

Sekolah Sadrina (SDN 3 Glagah) tergusur terhitung sejak Oktober 2017 lalu. Aktivitas belajar mengajar sekolah sementara menumpang di rumah milik salah satu warga di Pedukuhan Kepek. Sembari menunggu gedung baru sekolah SDN 3 Glagah yang rencananya dibangun kembali di kompleks relokasi Glagah.

Dengan kondisi ruangan yang sempit dan harus disekat dengan almari buku atau papan kayu untuk membedakan tingkatan kelas. Pihak sekolah kali ini berupaya menambah lampu supaya lebih terang, memindahkan kipas angin dari ruang kelas lain ke ruang ujian untuk memberikan kenyamanan bagi peserta USBN.

Alhamdulillah lancar dan nyaman, tidak ada yang berisik. Kondisinya memang harus begini, mau bagaimana lagi. Harus menerima kenyataan di sini tapi ya nyaman saja,” tandas Sadrina.

Kepala SDN 3 Glagah Joko Susilo mengamini, proyek pembangunan bandara sejauh ini tidak mengganggu proses belajar dan mengajar di sekolahnya. Kendati kerap terdengar bunyi menggema dan bising proyek pembangunan, namun tidak sampai ke sekolah dan tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar siswa. (ila/mg1)