JOGJA – Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) di Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIJ dengan predikat A, menjadi yang terbaik di Indonesia. Tim Independen Reformasi Birokrasi Nasional, mengisyaratkan menjadikan sistem tersebut sebagai percontohan di Indonesia.

Ketua Tim Independen Reformasi Birokrasi Nasional, Prof Eko Prasojo mengatakan, sistem akuntabilitas kinerja Pemprov DIJ yang dinilai sudah baik, untuk diterapkan menjadi kebijakan nasional. Tidak hanya SAKIP, regulasi dan penataan regulasi yang dilakukan Pemprov DIJ pun tengah dipelajari, untuk dijadikan percontohan.

“SAKIP di Jogkarta suatu terobosan. Apalagi bisa seperti saat ini dilakukan secara bertahap dan sifatnyaout of the box,” kata Eko usai bertemu Gubernur DIJ di Bangsal Kepatihan Kamis (3/5).

Salah satu mendorong sistem tersebut bisa berjalan, jelasnya, yakni faktor leadership. Kehadiran HB X sebagai raja Jogja dan pemimpin dalam birokrasi ternyata tidak menjadi hambatan.

Justru faktor ketaatan dari kabupaten kota, untuk melangkah bersama, mewujudkan perencanaan yang sudah dirancang selama 17 tahun berjalan dengan baik.

Reformasi birokrasi di Pemprov DIJ sudah dimulai sejak tahun 2001. Diakui, timnya mendapatkan pembelajaran mengenai bagaimana keberlanjutan dari sebuah reformasi. Hal tersebut, menurutnya karena pengaruh status keistimewaan DIJ.

“Gubernur lain kan rata-rata cuma (menjabat) lima atau 10 tahun. Ini memang keistimewaannya. Tapi, itu merupakan faktor penting, yang menjagacontinuitydari perubahan itu sendiri,” katanya.

Sementara itu anggota Tim Independen Reformasi Birokrasi Nasional, Siti Zuhro mengatakan, dalam kunjungannya ke DIJ kali ini, banyak dijumpai hal baik, yang nantinya bisa menjadi kebijakan nasional. Terlebih, pihaknya memang ditugaskan untuk memberi masukan kepada Wakil Presiden, selaku ketua tim pengarah reformasi birokrasi.

“Mungkin nanti dengan peraturan presiden, hal-hal yang baik ini bisa direplikasi nasional, untuk disebarluaskan ke daerah,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Provinsi DIJ Gatot Saptadi mengatakan apresiasi dari Tim Independen Reformasi Birokrasi Nasional sekaligus menjadi tantangan. Terutama untuk mempertahankan prestasi yang sudah diraih.

“Kuncinya kita tetap lakukan perubahan, perubahan dengan mengikuti kondisi zaman,” katanya. (bhn/zam/mg1)