Kapolda DIJ Brigjen Pol Ahmad Dofiri menampik telah kecolongan saat melakukan pengamanan aksi demo May Day yang berujung aksi peerusakan di pertigaan UIN Sunan Kalijaga, Selasa (1/5). Jenderal bintang satu ini menilai, dari berbagai barang bukti yang disita, aksi perusakan dan pembakaran pos polisi sudah disiapkan.

“Ya nggak lah, kan aksi kemarin banyak sekali, ada di 26 titik. Jadi aksi itu sekonyong-konyong sore hari muncul,” kata Dofiri usai bertemu dengan Gubernur Hamengku Buwono X di Bangsal Kepatihan, Rabu (2/5).

Dofiri juga menyangkal kedatangannya ke Bangsal Kepatihan berkaitan dengan tulisan bernada ancaman kepada orang nomor satu di DIJ itu. Dikatakan, kedatangan ke Kepatihan berkaitan dengan tugas yang akan dikerjakan selama beberapa hari ke depan di Jakarta. “Hari ini saya pamit meninggalkan Jogjakarta selama beberapa hari karena ada keperluan di Mabes Polri,” kata Dofiri.

Dalam pertemuan empat mata itu, eks Kapolda Banten ini menilai HB X cukup bijak dalam menyikapi ancaman tersebut. Bahkan HB X sama sekali tidak berniat memperpanjang polemik tersebut hingga ke ranah hukum. “Beliau hanya senyum karena itu provokasi orang-orang saja,” ungkapnya.

Sementara itu HB X mengungkapkan kekecewaannya terhadap aksi massa yang berakhir anarkistis. Dia mempertanyakan motif politik demonstrasi tersebut hingga keluar adanya tulisan bernada provokatif yang mengancam dirinya.

“Tapi yang jelas, dengan adanya bom molotov berarti kan sudah dipersiapkan. Saya nggak tahu motif politiknya apa,” ujarnya dengan nada bertanya.

HB X memita kepada masyarakat untuk tidak terprovokasi terhadap aksi-aksi yang dapat memperkeruh suasana di DIJ. Ia menyerahkan persoalan tersebut sepenuhnya kepada aparat kepolisian, serta mengusutnya secara tuntas.(bhn/dwi/cr7/laz/mg1)