Sebanyak 25 orang perempuan terlihat memadati gedung PKK Desa Sidoarum, Godean, Sleman. Mereka mendapatkan sosialisasi program pemberdayaan ekonomi Desa Prima dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) DIY.

Kepala Sub Bidang Pengembangan Kelembagaan Organisasi Perempuan BPPM DIY Endah Wahyuni tampil sebagai salah satu narasumber. Endah menjelaskan, Desa Prima menyasar warga miskin dan rentan miskin. Dalam satu desa angkanya mencapai 10 persen dari jumlah penduduk.

“Harapannya sasaran warga miskin dan rentan miskin bisa terangkat kesejahterannya. Caranya dengan memberikan bekal ilmu sesuai keahliannya. Setidaknya mau mengelola diri dalam sektor ekonomi,” jelasnya.

Sidoarum dipilih karena memiliki potensi yang beragam. Potensi ini, lanjutnya, bisa diolah menjadi nilai ekonomi. Tidak hanya jangka pendek, namun berkelanjutan dan jangka panjang.

Setelah Desa Prima terbentuk, BPPM DIY memberikan pendampingan. Waktunya selama dua tahun ke depan. Selanjutnya. menjadi tanggung jawab dinas terkait di kabupaten dan kota se-DIY. Pengembangan program bisa disesuaikan dengan program dam kegiatan di dinas tersebut.

“Anggota diutamakan perempuan yang menjadi kepala rumah tangga dari keluarga miskin dan sudah punya embrio usaha,” ujarnya.

Program Desa Prima juga menyasar perempuan yang mengalami konflik sosial. Mulai korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hingga mantan warga binaan lembaga pemasyarakatan.

“Seperti warga binaan, selama di dalam itu mendapatkan pembekalan optimal. Sayangnya, selepas keluar kerap ada pandangan negatif. Al hasil penolakan ini berimbas pada pengembangan diri termasuk sektor ekonomi,” katanya.

Ketua Wahana Pembelajaran Pertanian Terpadu Joglo Tani TO. Suprapto menilai, potensi pertanian di Sidoarum cukup melimpah. Hanya saja, dari segi lahan terbatas. Ini dampak dari maraknya alih fungsi lahan menjadi bangunan.

Strategi Desa Prima, di mata dia lebih tepat diterapkan dengan pertaninan. Tidak harus memiliki lahan luas. Halaman rumah bisa menghasilkan. TO Suprapto mengajak para anggota Desa Prima beradaptasi dengan beberapa teknik pertanian.

“Targetnya, mandiri pangan dengan lahan minimal. Misal ukuran 1×1 meter bisa menanam 40 bibit bawang. Ada teknik menanam vertikal. Semua ini bisa diterapkan dengan luas lahan yang sangat minimal,” jelasnya.

Penerapan sistem itu diawali dengan mandiri pangan. Tujuannya memenuhi kebutuhan pangan bagi keluarga. Pengembangan selanjutnya bisa diolah menjadi nilai ekonomi. Hasil dari berkebun minimalis dapat menjadi potensi menjanjikan.

“Apalagi jika tanpa pestisida. Itu bisa menaikan harga jualnya. Saat ini banyak masyarakat mulai beralih ke gaya hidup sehat. Nah, para ibu-ibu dengan program Desa Prima bisa mengambil celah ini. Wujudkan kemandirian ekonomi perempuan dimulai dari pangan,” ajaknya. (dwi/kus/mg1)