Sementara itu, Aliansi Masyarakat Anti Anarkisme (AMAN) Jogjakarta mengutuk keras aksi anarkistis dalam aksi unjuk rasa di pertigaan UIN Sunan Kalijaga. Aliansi yang terdiri dari seluruh elemen masyarakat ini juga menyayangkan adanya kalimat-kalimat ancaman kepada Raja Jogjakarta Sultan Hamangku Bawono ka 10.

Perwakilan aksi, Agung Budiawan, berharap Polda DIJ bergerak cepat. Tidak hanya penanganan pelaku kerusakan tapi juga penulisan kata-kata hinaan. Pertimbangannya aksi itu telah memantik keresahan warga Jogjakarta.

“Jogjakarta itu adalah kota yang damai tenteram, tidak pernah ada yang mengucapkan kalimat seperti yang dilakukan para pendemo. Harus ditindak tegas,” pintanya di Lobi Mapolda DIJ, Rabu siang (2/5).

Ia menegaskan warga Jogjakarta tidak menolak adanya aksi unjuk rasa. Hanya saja bentuk aksi protes wajib berlangsung santun dan kondusif. Berbeda dengan aksi yang terjadi di ruas jalan pertigaan UIN Sunan Kalijaga tersebut.

Dalam kesempatan ini AMAN menelurkan tujuh butir sikap pernyataan. Setelah dibaca, butir pernyataan itu diserahkan ke perwakilan Polda DIJ, Kabid Humas AKBP Yulianto.

“Terima kasih atas kepedulian warga Jogjakarta yang mendukung suasana tetap kondusif. Bukti bahwa Jogjakarta tidak bisa diprovokasi meski saat itu ditunggangi oleh oknum pengunjuk rasa yang tidak bertanggungjawab,” katanya.

Terlihat pula Ketua Federasi SPSI Jogjakarta Ruswandi dalam aksi ini. Dalam kesempatan itu ia menegaskan tidak ada anggota SPSI Jogjakarta yang terlibat dalam aksi anarkistis. Dirinya juga menyayangkan aksi peringatan Hari Buruh itu ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu. (bhn/dwi/cr7/laz/mg1)