Aliansi Masyarakat Anti Anarkisme (AMAN) menggelar aksi damai mengutuk aksi rusuh sebelumnya. (IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)

SLEMAN – Aksi ancaman berupa tulisan kepada Raja Keraton Jogja Sultan Hamengku Bawono ka 10 berbuntut panjang. Jajaran Polda DIJ tetap menindaklanjuti meski objek tulisan tidak melapor. Ancaman dalam kalimat “Bunuh Sultan” terlihat saat aksi unjuk rasa di pertigaan UIN Sunan Kalijaga, Selasa (1/5).

Kapolda DIJ Brigjen Polisi Ahmad Dofiri memastikan, polisi tetap bisa menindaklanjuti. Aksi itu bisa tergolong dalam laporan polisi Model A. Untuk saat ini, barang bukti yang telah disita berupa lima kaleng cat semprot dan tulisan di baliho dan pagar tembok sekitar aksi unjuk rasa.

“Tulisan provokatif itu sedang kami dalami, maksud dan tujuannya apa. Aksi buruh kok malah melenceng sampai ke sana. Itu tidak ada hubungannya dan tidak ada konteksnya dengan Hari Buruh,” tegasnya saat ditemui di Mapolda DIJ, Rabu (2/5).

Mantan Kapolresta Jogja ini menduga ada agenda lain dalam aksi kali ini. Menurutnya, tulisan ancaman itu telah dikonsep sedemikan rupa. Terbukti coretan terdapat di beberapa titik lokasi unjuk rasa. Mulai dari baliho barat Pos Polisi Lalu Lintas hingga pagar tembok kampus UIN Sunan Kalijaga.

“Padahal paginya juga ada aksi buruh di kawasan Malioboro hingga Titik Nol kilometer. Tuntutan dalam aksi itu jelas dan sasarannya ke DPRD dan Gedung Agung. Tapi yang sore di pertigaan itu tidak jelas arah gerakannya,” jelasnya.

Polda DIJ berhasil sendiri mengamankan setidaknya 69 peserta demo dalam aksi yang berakhir rusuh itu. Dari keseluruhan, 12 peserta aksi telah ditetapkan sebagai tersangka. Hanya saja data tersangka yang dirilis baru tiga nama, inisial MC, 25, MI, 22, dan AM, 24 yang bertindak sebagai perusak dan provokator.

Ditreskrimum Polda DIJ Kombespol Hadi Utomo menegaskan, ketiganya terindikasi sebagai mahasiswa di Jogjakarta. Tersangka MC dan MI terindikasi sebagai mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, sementara tersangka AM terindikasi sebagai mahasiswa Universitas Sanata Dharma.

“MC itu koordinator umum aksi, untuk kepastian asal muasal kampus masih pendalaman tim. Harus melakukan kroscek kepada pihak kampus selaku pemilik data yang valid. Memang saat diperiksa mengaku sebagai mahasiswa kampus itu,” katanya.

Hadi menuturkan, ada kemungkinan tersangka bertambah. Terlebih awalnya ada 10 saksi yang diperiksa keterangannya. Ke-10 orang ini awalnya sebagai saksi pelemparan molotov, perusakan pos polisi, hingga pelaku provokasi. Ditreskrimum Polda DIJ sudah mengumpulkan bukti berdasarkan video dan saksi di lokasi unjuk rasa.

“Saat beraksi mereka menggunakan penutup muka. Sempat kami ultimatum jika tidak menyerahkan diri akan kami kejar. Khususnya untuk 10 orang yang sempat kami tetapkan sebagai saksi. Kalau untuk tiga tersangka, sudah kami tahan,” ujarnya.

Akibat aksi anarkistis dan provokatif itu, ketiga tersangka diancam pasal berlapis. Mulai Pasal 160 KUHP tentang Penghasutan dengan Lisan, Pasal 187 KUHP Meledakan Petasan dan Menyebabkan Kebakaran, Pasal 170 KUHP tentang Peruskan Barang atau Orang, dan Pasal 406 KUHP tentang Perusakan.

“Ancaman hukuman atas terjadinya peristiwa kemarin bisa sampai di atas lima tahun. Sehingga sejak semalam (1/5), kami langsung melakukan penahanan kepada tiga tersangka,” jelasnya.

Polda DIJ juga melakukan tes urine kepada peserta aksi yang ditangkap. Hasilnya salah satu peserta aksi insial BV positif menyalahgunakan narkotika. Tes urine membuktikan BV mengonsumsi ganja, sabu-sabu, ekstasi, pil psikotropika dan pil penenang.

Khusus untuk pelaku ini dikenakan pasal penyalahgunaan narkotika. Tes urine, menurut Hadi, sebagai wujud pemeriksaan mendalam. Hal ini terkait aksi dan tindakan yang dilakukan selama mengikuti aksi unjuk rasa.

“Apakah peserta aksi dalam kondisi terpengaruhi obat-obatan saat mengeluarkan aspirasinya. Hasilnya ternyata ada satu peserta yang positif menyalahgunakan narkotika,” katanya. (dwi/laz/mg1)