BENEDICT RISDYANTO

Sebagai pecinta miniatur kendaraan transportasi Benedict Risdyanto merasa perlu mengenalkan koleksinya sebagai sarana edukasi. Lewat Jogja Miniature, Risdy, sapaannya, menunjukkan eksistensinya. Pecinta miniatur tak hanya untuk kalangan atas di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Bahan pembuatnya pun tak harus impor. Anggota Jogja Miniature bahkan membuatnya dengan bahan-bahan sederhana yang mudah didapat di sekitar mereka. Selain mudah diperoleh, juga murah. Untuk membuat bukit, misalnya. Dibuat dengan kerangka kayu dan kasa setrimin. Kemudian permukaannya ditutup bubur koran. Tanahnya bisa menggunakan batu bata yang ditumbuk. Pohon-pohon dirakit dari kawat. Sedangkan daun dibuat dari spon yang dihancurkan, lalu diberi warna.

“Versi mahalnya bisa impor bahan khusus untuk diorama. Tapi kalau bisa bikin yang murah kenapa harus beli mahal,” ujarnya kepada Radar Jogja belum lama ini.

Di antara bahan-bahan tersebut, kata Risdy, hanya material rumput sintetis yang masih harus impor.

Untuk membuat sebuah diorama berukuran 1,2 x 2,5 meter persegi dibutuhkan waktu sekitar tiga minggu. Yang membuat lama adalah waktu antarproses. Menunggu kering, lalu diproses lagi. Kemudian dikeringkan lagi, dan seterusnya. Belum lagi jika kondisi cuaca tidak menentu. Seperti saat membuat miniatur bukit, saat layout meja selesai dikerjakan masih harus menunggu bubur koran kering. Demikian pula untuk pengecatannya.

Selain kereta dan pernik-perniknya, miniatur mobil niaga, alat berat, truk, dan bus juga menjadi koleksi mereka. Makin lengkap dengan adanya miniatur orang, rumah, gedung, bahkan warung pecel lele. “Yang nggak punya miniatur juga boleh gabumg. Kan ada juga yang cuma hobi memotret miniatur atau ikon-ikon film,” ungkap Risdy yang menjabat wakil ketua Jogja Miniature.

Miniatur yang biasa dipakai berukuran HO atau 1 banding 87. Maksudnya, tiap benda berukuran 87 sentimeter di dunia nyata dikecilkan menjadi satu sentimeter. Ini supaya tampak proporsional.

“Di Jogja ternyata banyak yang suka miniatur, makanya kami bentuk komunitas. Anggotanya ada juga dari Pekalongan dan Jepara,” ungkap Risdy.

Pecinta miniatur Jogja mulai kalangan pelajar, pengusaha, hingga pensiunan PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Setiap bulan anggota Jogja Miniature merakit diorama di markas mereka yang terletak di kawasan Timoho. Khusus untuk pameran, desain layout modular dibuat bongkar pasang. Seperti ketika mereka menggelar pameran tunggal pertama bertajuk “Miniature Scale and Railway Expo” di Ambarrukmo Plaza akhir pekan lalu.

Biasanya, mereka hanya terlibat dalam pameran mainan atau acara-acara terkait kereta api. “Effort paling besar kalau pameran itu mengangkut semuanya,” ujar Risdy sambil tersenyum. (yog/mg1)