Gara-garanya kondisi lalu lintas yang makin crowded. Terutama ketika pagi atau sore saat jam berangkat/pulang kerja pegawai. Ditambah lagi kesadaran pengguna jalan yang tak mau memberi ruang bagi ambulans. Itulah yang mendorong beberapa pemuda Jogja membentuk

Indonesian Escorting Ambulance (IEA). Itulah tim “pengawal” ambulans yang terjebak kemacetan. Mereka biasa beroperasi di kawasan rawan macet seperti Jalan Solo, Jalan Monjali, dan Ring Road.

Mukhammad Nadzim Putra Majib adalah salah seorang penggawanya. Bersama 22 anggota IEA DIJ, Nadzim secara sukarela mengawal ambulans yang sedang mengangkut pasien. “Tak jarang sopir ambulans langsung menghubungi kami minta pengawalan,” ungkap koordinator IEA DIJ itu.

IEA DIJ terbentuk pada September 2017. Anggotanya dari berbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaan. Bahkan ada yang masih duduk di bangku sekolah. Meski belum genap setahun berdiri, IEA telah menjalin kerja sama dengan banyak sopir ambulans di berbagai rumah sakit di DIJ. “Banyak kisah, biasanya beda ambulans beda cerita,” ungkap Nadzim.

Nadzim menyadari jika kegiatan yang dia lakukan bersama rekan-rekannya di IEA berpotensi risiko tinggi. Bahkan harus bertaruh nyawa. Karena terkadang mereka harus memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi.

Karena itu menjadi anggota IEA juga tak mudah. Semuanya harus paham prosedur standar berlalu lintas. Mereka tak cukup sekadar mengantongi surat izin mengemudi (SIM). Ada beberapa persyaratan lain yang harus dipenuhi. Pengetahuan terhadap UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menjadi poin tersendiri. “Kami menyaring anggota secara ketat. Karena ini berhubungan dengan nyawa sendiri dan orang lain,” jelasnya.

Dalam setiap operasi, satu unit ambulans dikawal tiga orang. Ketiga pengawal ini memiliki fungsi berbeda-beda.

Pengendara pertama bertugas memberi peringatan kepada pengendara lain jika akan ada ambulans yang akan melintas. Pengawal kedua meminta pengendara lain memberi jalan. Sedangkan pengawal ketiga memandu ambulans.

Aksi itu mereka lakukan murni untuk kepentingan sosial. Bukan komersial. Namun, ada kalanya mereka ditegur polisi karena penggunaan lampu strobe dan sirine berlebihan.

Kendati demikian, hal itu telah diselesaikan melalui mediasi dengan Polda DIJ.

Selain memberikan pengawalan mobil ambulans, keberadaan IEA diharapkan bisa mengedukasi pengguna jalan lain. Terutama pengendara mobil pribadi dan sopir bus yang suka memotong jalan atau ngeblong.(cr4/yog/mg1)