GUNUNGKIDUL –Kabar buruk bagi guru tidak tetap (GTT). Sebab, tidak semua guru honorer ini mendapatkan surat keputusan (SK) pengangkatan dari bupati Gunungkidul. Sebab, kebutuhan guru pengganti ternyata cukup sedikit. Hanya sekitar 500 orang. Sementara, jumlah GTT di Bumi Handayani mencapai seribu orang.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul Bahron Rasyid mengungkapkan, angka 500 tidak muncul serta-merta. Melainkan dari hasil pendataan. Data ini mengacu jumlah guru yang memasuki masa pensiun. Karena itu, Bahron mewanti-wanti agar sekolah selektif saat merekemondasikan GTT sebagai guru pengganti.

“Kebutuhan guru pengganti dan GTT tidak sebanding,” jelas Bahron saat dihubungi Minggu (29/4).

Lalu, bagaimana nasib 500 GTT lainnya? Bahron belum dapat memberikan kepastian. Kendati begitu, Bahron berjanji pemkab bakal meningkatkan kesejahteraan GTT maupun guru tidak tetap (GTT). Meski secara bertahap. Lagi pula, pengangkatan 500 GTT ini juga disesuaikan dengan keuangan daerah.

“Dan kebutuhan guru juga hanya 500 orang,” ucapnya.

Dikatakan, GTT yang lolos seleksi administrasi pengangkatan bakal ditempatkan untuk mengisi berbagai kekosongan formasi guru di sekolah dasar. Mulai guru pendidikan jasmani, hingga agama. Nantinya, mereka bakal mendapatkan tambahan penghasilan dari pemkab.

“Nanti diatur dalam perbup (peraturan bupati),” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Bahron juga menyinggung peluang GTT mengikuti seleksi calon aparatur sipil Negara. Sebab, pemkab saat ini masih berjuang mendorong Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi agar menyetujui GTT dapat masuk seleksi.

“Semoga disetujui,” harapnya.

Ketua DPRD Gunungkidul Suharno mengungkapkan hal senada. Dia meminta penempatan guru pengganti selektif. Itu karena tidak sedikit jumlah guru dan rombongan belajar tak seimbang.

“Ada pula guru yang bertugas sebagai administrator penyusunan laporan dana BOS,” kritiknya. (gun/zam/mg1)