JOGJA – Pemkot Jogja terus memoles Pasar Beringharjo. Ikon wisata yang berlokasi di Jalan Malioboro itu tak cukup hanya dioperasikan hingga pukul 21.00 setiap harinya. Pasar tradisional terbesar di DIJ itu pun telah diperkuat identitasnya dengan landmark ukuran jumbo bertuliskan “Beringharjo” di Jalan Pabringan. Kini pemkot kembali menegaskan Beringharjo sebagai ikon wisata andalan Jogja dengan membangun relief dan monumen tertib ukur di sisi timur pasar.

Semua itu tak lepas upaya pemkot mengembangkan pasar tradisional sebagai destinasi wisata, sekaligus sarana edukasi.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jogja Maryustion Tonang mengatakan, relief menceritakan berbagai aktivitas pasar tradisional. Pembuatan relief melibatkan seniman Institut SeniIndonesia (ISI) Jogjakarta.

Monumen tertib ukur yang dibangun tepat di seberang relief berbentuk timbangan tradisional (timbangan kodok) yang kerap digunakan pedagang pasar tradisional. “Monumen ini untuk mengingatkan masyarakat bahwa Kota Jogja telah ditetapkan sebagai daerah tertib ukur pada 2016,” kata Tion, sapaannya, Jumat (27/4).

Pembangunan dua identitas baru Pasar Beringharjo itu ditargetkan selesai bulan depan. “Relief dan monument bisa menjadi objek lokasi swafoto oleh pengunjung atau wisatawan yang berbelanja di Pasar Beringharjo,” ungkap mantan kepala Dinas Pengelolaan Pasar Kota Jogja.

Sementara terkait uji coba perpanjangan waktu operasional Pasar Beringharjo hingga pukul 21.00 diklaim cukup diminati wisatawan. Puncaknya pada Sabtu (14/4) malam. Menurut Tion ketika itu Beringharjo dipadati sekitar 4.843 pengunjung. Terhitung sejak pukul 17.00. Jumlah itu hampir sama dengan tingkat kunjungan saat siang. Pengunjung didominasi wisatawan luar Jogja. (pra/yog/mg1)