“Kami mencari cara bagaimana memisahkan minyak tanpa merusak struktur, komponen dan tidak menyebabkan tengik, saya punya metode spontan,” jelas Ani kepada wartawan di kantor Humas dan Protokoler UGM, Jumat (27/4).

VCO yang kaya protein ini lebih encer, jernih, dan tidak tengik. Pengolahan dengan cara ini dapat menjaga kandungan vitamin E dari kelapa.

Ani mengaku selama 28 tahun ia melakukan penelitian ini hingga menemukan metode spontan. “Banyak metode pembuatan minyak kelapa tanpa pemanasan yang dilakukan UGM, tapi menghasilkan VCO yang berbeda,” tuturnya.

Dia menjelaskan, kelapa yang dipilih harus tua di pohon, kering, dan segar. Dari lima butir kelapa Sulawesi, dapat menghasilkan satu liter VCO, sedangkan untuk kelapa Jawa butuh 10 butir.

Dijelaskan, prosesnya berawal dari membuat santan yang kemudian didiamkan selama kurang lebih lima jam. Setelah didiamkan, akan menghasilkan tiga lapisan, yakni air sisa minyak dan protein kelapa, blondo, dan minyak.

Minyak jernih yang tidak rusak baunya harum. “Menurut riset bisa bertahan selama tiga tahun tanpa mengalamai ketengikan dalam kondisi tutup,” tambah Ani.

Proses produksinya, pertama air kelapa dibuang, diambil dagingnya, lalu diparut. Kemudian diperas dengan air hangat seperti membuat santan pada umumnya. Tidak ada takaran khusus atau tingkat kekentalan yang pasti.

“Di sini main perasaan dan kira-kira saja,” ujar Ani. Santan yang sudah jadi didiamkan selama 4-5 jam hingga pecah menjadi tiga lapisan, yakni air sisa minyak dan protein kelapa, blondo, dan minyak.

Minyak yang berada di lapisan paling atas inilah yang kemudian diambil dan disaring menjadi VCO. Metode lain yang biasa digunakan orang adalah pengasaman, penggaraman, elektoforesis, fermentasi, dan enzimatik.

Menurutnya, produk yang disentuh inovasi akan menghasilkan suatu produk yang manfaatnya lebih tinggi. Hingga saat ini Ani sudah membuat 25 jenis produk turunan VCO seperti krim wajah, minyak telon, vitamin bibir, dan baby lotion.

Produk turunan yang dibuat Ani ini sebagian masih belum dijual ke pasaran, karena dalam proses perizinan di Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI. Saat ini produksi dilakukan di pabrik yang berlokasi di Godean, Sleman. (laz/mg1)