JOGJA – Evaluasi pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Kota Jogja didapati dua kendala yang masih ditemui. Pertama server yang tidak bisa nyambung, ke dua listrik yang sempat padam di kawasan Karangkajen, Jogja.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Jogjakarta Edy Heri Suasana mengatakan, meski terjadi masalah dari server pusat di hari pertama UNBK, tidak menjadi kendala yang signifikan. Sebab, wilayah Jogja akses internetnya relatif cukup baik daripada daerah lain.

Sedangkan pada hari kedua UNBK dinyatakan lancar. Namun, di hari ketiga ada beberapa sekolah yang masih terkendala koneksi lambat seperti di SMPN 15 dan SMPN 9. Di hari terakhir Kamis (26/4) terjadi mati listrik di kawasan Karangkajen, dampaknya dirasakan SMP Muhammadiyah 9 dan SMPN 10.

“Sudah ada upaya dari PLN untuk membenahi listrik. Kalaupun sesi dua hari terakhir mati lagi kami bisa gunakan sesi tiga. Paling tidak, anak ditenangkan dulu,” terangnya dalam evaluasi UNBK di SMPN 5, Kamis (26/4).

Dia menjelaskan, selama empat hari ini tercatat sembilan siswa yang tidak ikut ujian. Dua di antarannya dinyatakan resmi mengundurkan diri, sisanya karena sakit.

Edy juga menjelaskan, Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) untuk penentuan kelulusan. Sedangkan UNBK untuk pemetaan kualitas pendidikan suatu kota, sekolah, dan masing-masing siswa. “Fungsi nilai ujian tetap sebagai pertimbangan masuk SMA/SMK,” jelasnya.

Wali Kota Jogjakarta Haryadi Suyuti meminta pihak sekolah melaksanakan kegiatan bagi para siswa walaupun UNBK sudah usai, karena statusnya masih siswa. Caranya tergantung sekolahnya. “Silakan para kepala sekolah dan kepala dinas berembuk. Setelah UNBK ini ora njuk rampung. Menjelang Ramadan ini misalnya ada pesantren,” tambahnya.

Menurut Haryadi, sekolah tetap harus mempersiapkan anak-anak untuk memasuki jenjang berikutnya, baik materi secara akademik, moral, atau pengajaran yang lain.

Terpisah, Kepala SMPN 5 Jogja Suharsono mengatakan, siswa yang sudah selesai ujian nasional masih diperkenankan datang ke sekolah sekadar untuk membaca atau yang lain. Dengan syarat harus mengenakan seragam sekolah.

“Untuk mengantisipasi supaya orang luar tidak masuk kalau pakai baju bebas. Sedangkan saat Ramadan nanti ada program buka dan tarawih bersama. Ada juga kegiatan sendiri dari para wali murid,” jelasnya. (cr3/ila/mg1)