KULONPROGO – Pembangunan bandara menyebabkan melonjaknya harga tanah di sekitar lokasi proyek. Termasuk tanah yang akan digunakan underpass pendukung New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Temon. Warga mematok harga minimal Rp 2,5 juta per meter persegi.

Rusmawarni, warga Dusun Sidorejo, Desa Glagah, Kecamatan Temon mengatakan, dia telah mengikuti sosialisasi underpass sekali. Dia telah menyerahkan salinan dokumen sertifikat tanah, Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK).

“Bagian rumah saya yang terdampak yakni pekarangan,” kata Rusmawarni.

Seluruh warga bersedia menjual tanahnya. Syaratnya, harga tanah tidak berbeda dengan harga tanah untuk NYIA, minimal Rp 2,5 juta per meter persegi.

Warga lain, Esther Sujio, mengungkapkan, warga bahkan ada yang meminta harga tanah Rp 5 juta per meter persegi. “Tapi belum tahu juga, yang menentukan harga kan tim penaksir. Namun tidak mungkin di bawah Rp 2,5 juta,” ungkapnya.

Setelah underpass dibangun, warga menginginkan ada jalan khusus bagi warga terdampak NYIA dan underpass. “Seharusnya kami mendapat kemudahan,” kata Esther.

Kepala Desa Glagah Agus Parmono mengatakan sedikitnya 27 bidang tanah di Dusun Sidorejo, Desa Glagah terdampak underpass. Pendataan dijadikan dasar pembentukan Izin Penetapan Lokasi (IPL) underpass.

“Proses pembebasan tanah rencananya akan dimulai Mei atau Juni 2018,” kata Agus.

Pembebasan lahan underpass dilakukan Pemerintah DIJ. Pembangunan underpass ditangani Satuan Kerja Proyek Jalan Nasional (Satker PJN) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (tom/iwa/mg1)