JOGJA – Setiap advokat dituntut untuk menjalankan profesinya secara baik, berintegritas, dan memiliki semangat kerakyatan.

“Kode etik advokat harus benar-benar diterapkan agar hukum di Indonesia berjalan dengan baik,” pesan

Ketua Pengadilan Tinggi Jogjakarta Haryanto usai melantik dan mengambil sumpah 110 advokat Perhimpunan Advokad Indonesia (Peradi) DIJ Kamis (26/4). “Advokat jangan matrealistis. Hanya membela yang ada uang saja,” sentilnya.

Haryanto berharap advokat selalu menunjukkan sikap profesional secara nyata. Dengan tidak melakukan praktik-praktik hukum yang kotor. Seperti melakukan penyuapan atau kolusi. “Apalagi sampai bermain perkara, itu mencederai hukum,” tegasnya.

Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Peradi Hermansyah Dulaimi menjelaskan, advokat yang dilantik telah melalui berbagai proses pendidikan, ujian, dan magang selama dua tahun.

“Standar pengangkatan advokat Peradi tetap sama, yaitupassing grade7,5. Hal ini untuk menjaga profesionalisme para advokat,” jelasnya.

Untuk kepentingan itu Peradi mempunyai program pendidikan berkelanjutan. Untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan advokat meningkat.

“Sekarang ini banyak muncul advokat baru. Kalau para advokat tidak meningkatkan kemampuannya, nanti akan tergeser,” ingatnya.

Sementara itu, Ketua DPC Peradi Jogja Irsyad Thamrin mengaku telah memiliki beberapa program peningkatan skill dan kapasitas advokat. Di antaranya, pelatihan mediasi dan penyelesaian sengketa di Mahkamah Konsitusi (MK). Kegiatan itu dilakukan setiap tahun sekali. (bhn/yog/mg1)