Dalam program adopsi pohon juga ada paket ramah lingkungan sudah diluncurkan lewat poster di media social seperti facebook (FB) dan Instagram. Juga melalui WA grup. Tangapan masyarakat lumayang baik. “Sampai saat ini sudah ada kurang lebih sudah 60 adopter perorangan,” terang Puranti.

Disinggung mekanisme adopsi pohon, dia mengatakan, dana yang terkumpul dikelola Forum Wanadesa. Sekretariat Forum Wanadesa ada di BLH DIY. Dana digunakan pemeliharaan tanaman, pemupukan, pembelian air untuk penyiraman dan penanggulangan penyakit. Lalu pembelian bibit tanaman baru, insentif pemerintah desa dan penanaman tanaman baru serta penambahan fasilitas wanadesa

Pengadopsi dapat mengunjungi pohon adopsi di lokasi ataupun meminta informasi perkembangan pohon adopsi wanadesa. Setiap pohon hanya diadopsi oleh satu orang. Forum Wanadesa mencatat setiap adopsi dan memastikan tidak ada tumpang tindih adopsi.

“Laporan keuangan akan dibuat secara transparan dan dicantumkan dalam newsletter wanadesa,” katanya. Sedangkan partisipasi dunia usaha dalam program Adopsi Pohon ini direkomendasikan untuk dapat menjadi bagian dari penilaian Proper.

Bila ada pohon yang mati atau rusak, Forum Wanadesa bertanggung-jawab penuh mengganti dan nama pengadopsi tetap dicantumkan. Puranti menyatakan, ada enam lokasi wanadesa yang potensial dijadikan percontohan. Yakni Desa Singosaren dan Desa Potorono, Banguntapan, Bantul. Desa Tirtoadi, Mlati, Sleman, Desa Caturharjo, Sleman, Sleman, Kaliagung, Sentolo, Kulonprogo serta Pilangrejo, Nglipar, Gunungkidul.

BLH DIY telah mengumpulkan sejumlah perusahaan swasta dan pemerintah desa se-DIY membahas program tersebut. “Program ini merupakan bagian dari sedekah bumi untuk melestarikan lingkungan demi anak cucu generasi mendatang,” imbuh Sekretaris BLH DIY Maladi.

Respons antarta lain disampaikan perwakilan dari PT Sarihusada dan penerbit Andi.Wakil dari kedua perusahaan itu mengapresiasi sekaligus meminta penjelasan lebih detail atas program tersebut. (kus/mg1)